Rabu, 13 Maret 2013

PENGGUNAAN ILMU SEMANTIK TERHADAP KATA “BAPAK” SISWA KELAS X SMAN 2 CIANJUR TAHUN AJAR 2011-2012


PENGGUNAAN ILMU SEMANTIK TERHADAP KATA “BAPAK”
SISWA KELAS X SMAN 2 CIANJUR TAHUN AJAR 2011-2012


Laporan
Diajukan untuk Melengkapi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah Semantik



oleh
AI ANI NANI FITRIAH
RIZCA DESIANA SELASTIAN







PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SURYAKANCANA
CIANJUR
2011




BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat penting untuk menyampaikan informasi atau pesan. Melalui kemampuan berbahasa manusia dapat berkomunikasi dengan dunia luar baik secara lisan maupn tertulis. Keterampilan berbahasa mencakup empat aspek, yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Salah satu keterampilan berbahasa yang harus dikuasai pengguna bahasa adalah menulis. Menulis merupakan salah satu proses yang dilakukan penulis untuk menyampaikan idea tau gagasan dalam bentuk tulisan.
Ada dua cabang utama linguistik yang khusus menyangkut kata yaitu etimologi, studi tentang asal usul kata, dan semantik atau ilmu makna, studi tentang makna kata. Di antara kedua ilmu itu, etimologi sudah merupakan disiplin ilmu yang lama mapan (established), sedangkan semantik relatif merupakan hal yang baru.
Kata semantik berasal dari bahasa Yunani sema yang artinya tanda atau lambang (sign). “Semantik” pertama kali digunakan oleh seorang filolog Perancis bernama Michel Breal pada tahun 1883. Kata semantik kemudian disepakati sebagai istilah yang digunakan untuk bidang linguistik yang mempelajari tentang tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya. Oleh karena itu, kata semantik dapat diartikan sebagai ilmu tentang makna atau tentang arti, yaitu salah satu dari tiga tataran analisis bahasa: fonologi, gramatika, dan semantik (Chaer, 1994: 2).
Menurut teori yang dikembangkan dari pandangan Ferdinand de Saussure, makna adalah ’pengertian’ atau ’konsep’ yang dimiliki atau terdapat pada sebuah tanda-linguistik. Menurut de Saussure, setiap tanda linguistik terdiri dari dua unsur, yaitu (1) yang diartikan (Perancis: signifie, Inggris: signified) dan (2) yang mengartikan (Perancis: signifiant, Inggris: signifier). Yang diartikan (signifie, signified) sebenarnya tidak lain dari pada konsep atau makna dari sesuatu tanda-bunyi. Sedangkan yang mengartikan (signifiant atau signifier) adalah bunyi-bunyi yang terbentuk dari fonem-fonem bahasa yang bersangkutan. Dengan kata lain, setiap tanda-linguistik terdiri dari unsur bunyi dan unsur makna. Kedua unsur ini adalah unsur dalam-bahasa (intralingual) yang biasanya merujuk atau mengacu kepada sesuatu referen yang merupakan unsur luar-bahasa (ekstralingual).
Berdasarkan uraian diatas, maka seorang pengajar harus kreatif dalam memberikan bahan ajar bukan hanya terpaku pada buku teks saja, melainkan dengan mengolah kemampuannya, dalam menyusun bahan ajar yang sesuai dengan kemampuan siswa, sehingga siswa tersebut dengan mudah mencernanya.
Dengan alasan tersebut, maka penulis mangambil judul PENGGUNAAN ILMU SEMANTIK TERHADAP KATA “BAPAK” SISWA KELAS X SMAN 2 CIANJUR TAHUN AJAR 2011-2012

1.2 Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah bukan saja untuk memudahkan dan menyederhanakan masalah bagi peneliti, tetapi juga untuk menetapkan terlebih dahulu segala sesuatu yang diperlukan untuk memecahkannya. Misalnya tenaga, kecekatan, waktu, biaya yang timbul dari rencana itu (Surakhmad, 1985:36).
Jadi setiap masalah yang diteliti tentu saja harus dibatasi ruang lingkupnya, hal ini untuk memusatkan penelitian terhadap objek yang ditelitinya.
Penelitian tentang kemampuan menulis kalimat dari makn kata, relatif luas antara lain mencakup pra penulisan, saat penulisan, dan pasca penulisan. Dalam penelitian ini dibatasi pada kalimat yang berkaitan dengan empat kemampuan, yaitu.
  1. Makna kata “bapak” untuk sebutan kepada ayah;
  2. Makna kata “bapak” untuk sebutan kepada orang yang lebih tua (laki-laki);
  3. Makna kata “bapak” untuk sebutan kepada guru laki-laki;
  4. Makna kata “bapak” untuk sebutan kepada pejabat laki-laki;


1.3  Konteks
Berdasarkan masalah yang penulis ajukan di atas, maka penulis merumuskan masalah penelitian  sebagai berikut :
1.      Apakah siswa kelas X SMAN 2 CIANJUR TAHUN AJAR 2011-2012 mampu mengembangkan makna kata sesuai dengan kalimat?
2.      Apakah siswa kelas X SMAN 2 CIANJUR TAHUN AJAR 2011-2012 mampu menyusun jenis kata dengan tepat?
3.      Apakah siswa kelas X SMAN 2 CIANJUR TAHUN AJAR 2011-2012  mampu menggunakan bahasa yang baik dan benar pada pada kalimat yang dibuat oleh siswa?
4.      Apakah siswa kelas X SMAN 2 CIANJUR TAHUN AJAR 2011-2012 mampu mengembangkan kalimat dari sebuah kata?

1.4  Tujuan Penelitian
Sesuai dengan perumusan masalah penelitian yang telah dikemukakan diatas, maka tujuan penulis dalam penelitian ini adalah :
1.      Mengembangkan makna kata sesuai dengan kalimat;
2.      Menyusun jenis kata dengan tepat;
3.      Menggunakan bahasa yang baik dan benar;
4.      Mengembangkan kalimat dari sebuah kata.

1.5 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini, diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis. Adapun manfaat penelitan yang dimaksud adalah :
1.      Guru dapat menemukan bakat yang beragam dan memberi kesempatan serta membimbing siswa;
2.      Bagi peneliti, selain menambah wawasan peneliti juga dapat mengetahui sejauh mana siswa dapat mengembangkan kata menjadi kalimat;
3.      Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran menulis kalimat dikelas X SMAN 2 CIANJUR TAHUN AJAR 2011-2012.

1.6 Anggapan Dasar
Anggapan dasar adalah sesuatu yang diakui kebenarannya oleh penulis yang akan berfungsi sebagai hal-hal yang dipakai untuk tempat berpijak bagi penelitinya (Arikunto, 1991:17).
Anggapan dasar identik dengan teori dan dasar pemikiran yang dijadikan dasar berpijak permasalahan. Penelitian ini dapat dilakukan karena memiliki anggapan dasar sebagai titik tolak. Titik tolak penelitian ini adalah sebagai berikut:
  1. Menulis atau mengembangkan sebuah kalimat bisa dilakukan berdasarkan EYD;
  2. Pembelajaran menulis kalimat merupakan pembelajaran bahasa Indonesia yang tercantum dalam SK dan KD Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan;
  3. Melalui pembelajaran mengembangkan sebuah kalimat, dapat ditanamkan rasa peka sekaligus dampak positif pada siswa;
  4. Pengajaran mengembangkan kalimat dapat mendukung dalam keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, menulis dan membaca).

1.7     Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara atas masalah yang diteliti dan perlu diuji lebih lanjut kebenarannya. Berdasarkan asumsi tersebut, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah :
1.      Siswa kelas X SMAN 2 CIANJUR TAHUN AJAR 2011-2012 mampu mengembangkan makna kata sesuai dengan kalimat;
2.      Siswa kelas X SMAN 2 CIANJUR TAHUN AJAR 2011-2012 mampu menyusun jenis kata dengan tepat;
3.      Siswa kelas X SMAN 2 CIANJUR TAHUN AJAR 2011-2012  mampu menggunakan bahasa yang baik dan benar pada pada kalimat yang dibuat oleh siswa;
4.      Siswa kelas X SMAN 2 CIANJUR TAHUN AJAR 2011-2012 mampu mengembangkan kalimat dari sebuah kata.
5.      Tingkat kemampuan mengembangkan sebuah kalimat siswa sangat baik.  
1.8 Metode Penelitian
Metode penelitan merupakan cara utama yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan, misalnya untuk menguji serangkaian hipotesis dengan menggunakan teknik-teknik serta sifat-sifat tertentu (Winarno Surachmad, 1989:131).
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, yaitu dengan cara mencari fakta-fakta dan data serta informasi, sehingga menjadi teori dengan melihat sifat-sifat objek penelitian secara sistematis, logis, faktual dan akurat. Pemerolehan data berupa karangan siswa dideskripsikan berdasarkan hasil penelitian dengan kriteria yang sudah ditentukan.
Selain alasan diatas, metode ini digunakan untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai kemampuan siswa dalam mengembangkan kalimat siswa kelas X SMAN 2 CIANJUR TAHUN AJAR 2011-2012.

1.9 Teknik Penelitian
Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagi berikut :
1. Teknik Studi Pustaka
Peneliti berusaha melengkapi buku-buku serta tulisan-tulisan para ahli yang erat hubungannya dengan permasalahan yang diteliti.
2. Teknik Tes
Teknik tes digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam menulis puisi secara baik dan benar, sehingga menjadi sample penelitian.
3. Teknik Analisis
Menganalisis hasil menulis kalimat dari kata “bapak” yang dijadikan sampel penelitian, sehingga diperoleh tingkat kemampuan menulis kalimat pada anggota sampel.






BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Definisi Semantik
Kata semantik berasal dari bahasa Yunani sema yang artinya tanda atau lambang (sign). “Semantik” pertama kali digunakan oleh seorang filolog Perancis bernama Michel Breal pada tahun 1883. Kata semantik kemudian disepakati sebagai istilah yang digunakan untuk bidang linguistik yang mempelajari tentang tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya. Oleh karena itu, kata semantik dapat diartikan sebagai ilmu tentang makna atau tentang arti, yaitu salah satu dari tiga tataran analisis bahasa: fonologi, gramatika, dan semantik (Chaer, 1994: 2).
Kata semantik ini kemudian dijadikan sebagai istilah yang digunakan untuk bidang linguistik yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya. Atau denga kata lain, bidang linguistik yang mempelajari makna atau erti dalam bahasa. Oleh kerana itu, kata sematik dapat diertikan sebagai ilmu tentang makna atau tentang erti, iaitu salah satu daripada tiga tataran analisis bahasa termasuklah fonologi, gramatik dan semantik.
Selain istilah semantik dalam sejarah linguistik terdapat juga istilah lain yang digunakan seperti semiotik, semiologi, semasiologi, sememik dan semik untuk merujuk pada bidang yang mengkaji makna atau erti daripada suatu tanda atau lambang.  Namun, istilah semantik lebih umum digunakan dalam kajian linguistik kerana istilah-istilah tersebut mempunyai bidang cakupan objek yang lebih luas, yakni mencakupi makna tanda atau lambang pada umumnya. Termasuk tanda-tanda lalu lintas, kod, tanda-tanda dalam ilmu matematik dan banyak lagi. Sedangkan cakupan ilmu semantik hanyalah makna atau erti yang berkenaan dengan bahasa sebagai alat komunikasi verbal. Oleh itu, kita harus berhati-hati memakai kata bahasa. Menurut Leech (1974), yang melihat semantik sebagai fenomena linguistik perlu diberi penekanan yang serius. Hubungan makna dengan bahasa adalah apat, khusus dala ayat. Jadi, untuk mengkaji makna kita perlu mengkaji hubungan perkataan dengan ujaran. Seseorang yang mengetahui semantik akan berupaya mengenali ujaran atau ungkapan yang bersifat  ’tidak semantik’ yakni tidak masuk akal logik atau ayatnya sukar diterima logik. Menurut Ogden dan Richard (1923), makna dilihat sebagai ’pengaruh bahasa terhadap pemikiran’. Bagaimana penutur dan penerima menggunakan pemikiran mentafsir makna. Kepelbagaian takrifan di atas berlaku kerana para sarjana akan membuat interpretasi menurut fahaman dan latihan yang mereka perolehi dan selalunya dipengaruhi dengan bidang yang mereka ceburi.

2.2 Hakikat Makna
Menurut teori yang dikembangkan dari pandangan Ferdinand de Saussure, makna adalah ’pengertian’ atau ’konsep’ yang dimiliki atau terdapat pada sebuah tanda-linguistik. Menurut de Saussure, setiap tanda linguistik terdiri dari dua unsur, yaitu (1) yang diartikan (Perancis: signifie, Inggris: signified) dan (2) yang mengartikan (Perancis: signifiant, Inggris: signifier). Yang diartikan (signifie, signified) sebenarnya tidak lain dari pada konsep atau makna dari sesuatu tanda-bunyi. Sedangkan yang mengartikan (signifiant atau signifier) adalah bunyi-bunyi yang terbentuk dari fonem-fonem bahasa yang bersangkutan. Dengan kata lain, setiap tanda-linguistik terdiri dari unsur bunyi dan unsur makna. Kedua unsur ini adalah unsur dalam-bahasa (intralingual) yang biasanya merujuk atau mengacu kepada sesuatu referen yang merupakan unsur luar-bahasa (ekstralingual).
Dalam bidang semantik istilah yang biasa digunakan untuk tanda-linguistik itu adalah leksem, yang lazim didefinisikan sebagai kata atau frase yang merupakan satuan bermakna (Harimurti, 1982:98). Sedangkan istilah kata,yang lazim didefinisikan sebagai satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri yang dapat terjadi dari morfem tunggal atau gabungan morfem (Harimurti, 1982:76) adalah istilah dalam bidang gramatika. Dalam makalah ini kedua istilah itu dianggap memiliki pengertian yang sama.
Yang perlu dipahami adalah tidak semua kata atau leksem itu mempunyai acuan konkret di dunia nyata. Misalnya leksem seperti agama, cinta, kebudayaan, dan keadilan tidak dapat ditampilkan referennya secara konkret. Di dalam penggunaannya dalam pertuturan, yang nyata makna kata atau leksem itu seringkali, dan mungkin juga biasanya, terlepas dari pengertian atau konsep dasarnya dan juga dari acuannya. Misal kata buaya dalam kalimat (1).
(1). Dasar buaya, ibunya sendiri ditipunya.
Oleh karena itu, kita baru dapat menentukan makna sebuah kata apabila kata itu sudah berada dalam konteks kalimatnya. Makna sebuah kalimat baru dapat ditentukan apabila kalimat itu berada di dalam konteks wacananya atau konteks situasinya. Contoh, seorang setelah memeriksa buku rapor anaknya dan melihat angka-angka dalam buku rapor itu banyak yang merah, berkata kepada anaknya dengan nada memuji.
(2). ”Rapormu bagus sekali, Nak!”
Jelas, dia tidak bermaksud memuji walaupun nadanya memuji. Dengan kalimat itu dia sebenarnya bermaksud menegur tau mungkin mengejek anaknya itu.

2.2.1 Jenis Makna
Menurut Chaer (1994), makna dapat dibedakan berdasarkan beberapa kriteria dan sudut pandang. Berdasarkan jenis semantiknya, dapat dibedakan antara makna leksikal dan makna gramatikal, berdasarkan ada atau tidaknya referen pada sebuah kata atau leksem dapat dibedakan adanya makna referensial dan makna nonreferensial, berdasarkan ada tidaknya nilai rasa pada sebuah kata/leksem dapat dibedakan adanya makna denotatif dan makna konotatif, berdasarkan ketepatan maknanya dikenal makna kata dan makna istilah atau makna umum dan makna khusus. Lalu berdasarkan kriteri lain atau sudut pandang lain dapat disebutkan adanya makna-makna asosiatif, kolokatif, reflektif, idiomatik dan sebagainya.
2.2.1.1 Makna Leksikal dan Makna Gramatikal
Leksikal adalah bentuk adjektif yang diturunkan dari bentuk nomina leksikon. Satuan dari leksikon adalah leksem, yaitu satuan bentuk bahasa yang bermakna. Kalau leksikon kita samakan dengan kosakata atau perbendaharaan kata, maka leksem dapat kita persamakan dengan kata. Dengan demikian, makna leksikal dapat diartikan sebagai makna yang bersifat leksikon, bersifat leksem, atau bersifat kata. Lalu, karena itu, dapat pula dikatakan makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan referennya, makna yang sesuai dengan hasil observasi alat indera, atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita (Chaer, 1994). Umpamanya kata tikus makna leksikalnya adalah sebangsa binatang pengerat yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit tifus. Makna ini tampak jelas dalam kalimat Tikus itu mati diterkam kucing, atau Panen kali ini gagal akibat serangan hama tikus.
Makna leksikal biasanya dipertentangkan dengan makna gramatikal. Kalau makna leksikal berkenaan dengan makna leksem atau kata yang sesuai dengan referennya, maka makna gramatikal ini adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatika seperti proses afiksasi, proses reduplikasi, dan proses komposisi (Chaer, 1994). Proses afiksasi awalan ter- pada kata angkat dalam kalimat Batu seberat itu terangkat juga oleh adik, melahirkan makna ’dapat’, dan dalam kalimat Ketika balok itu ditarik, papan itu terangkat ke atas melahirkan makna gramatikal ’tidak sengaja’.
2.2.1.2 Makna Referensial dan Nonreferensial
Perbedaan makna referensial dan makna nonreferensial berdasarkan ada tidak adanya referen dari kata-kata itu. Bila kata-kata itu mempunyai referen, yaitu sesuatu di luar bahasa yang diacu oleh kata itu, maka kata tersebut disebut kata bermakna referensial. Kalau kata-kata itu tidak mempunyai referen, maka kata itu disebut kata bermakna nonreferensial. Kata meja termasuk kata yang bermakna referensial karena mempunyai referen, yaitu sejenis perabot rumah tangga yang disebut ’meja’. Sebaliknya kata karena tidak mempunyai referen, jadi kata karena termasuk kata yang bermakna nonreferensial.
2.2.1.3 Makna Denotatif dan Konotatif
Makna denotatif pada dasarnya sama dengan makna referensial sebab makna denotatif lazim diberi penjelasan sebagai makna yang sesuai dengan hasil observasi menurut penglihatan, penciuman, pendengaran, perasaan, atau pengalaman lainnya. Jadi, makna denotatif ini menyangkut informasi-informasi faktual objektif. Oleh karena itu, makna denotasi sering disebut sebagai ’makna sebenarnya’(Chaer, 1994). Umpama kata perempuan dan wanita kedua kata itu mempunyai dua makna yang sama, yaitu ’manusia dewasa bukan laki-laki’.
Sebuah kata disebut mempunyai makna konotatif apabila kata itu mempunyai ”nilai rasa”, baik positif maupun negatif. Jika tidak memiliki nilai rasa maka dikatakan tidak memiliki konotasi. Tetapi dapat juga disebut berkonotasi netral. Makna konotatif dapat juga berubah dari waktu ke waktu. Misalnya kata ceramah dulu kata ini berkonotasi negatif karena berarti ’cerewet’, tetapi sekarang konotasinya positif.
2.2.1.4 Makna Kata dan Makna Istilah
Setiap kata atau leksem memiliki makna, namun dalam penggunaannya makna kata itu baru menjadi jelas kalau kata itu sudah berada di dalam konteks kalimatnya atau konteks situasinya. Berbeda dengan kata, istilah mempunyai makna yang jelas, yang pasti, yang tidak meragukan, meskipun tanpa konteks kalimat. Oleh karena itu sering dikatakan bahwa istilah itu bebas konteks. Hanya perlu diingat bahwa sebuah istilah hanya digunakan pada bidang keilmuan atau kegiatan tertentu. Perbedaan antara makna kata dan istilah dapat dilihat dari contoh berikut
(1) Tangannya luka kena pecahan kaca.
(2) Lengannya luka kena pecahan kaca.
Kata tangan dan lengan pada kedua kalimat di atas adalah bersinonim atau bermakna sama. Namun dalam bidang kedokteran kedua kata itu memiliki makna yang berbeda. Tangan bermakna bagian dari pergelangan sampai ke jari tangan; sedangkan lengan adalah bagian dari pergelangan sampai ke pangkal bahu.
2.2.1.5 Makna Konseptual dan Makna Asosiatif
Leech (1976) membagi makna menjadi makna konseptual dan makna asosiatif. Yang dimaksud dengan makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apa pun. Kata kuda memiliki makna konseptual ’sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai’. Jadi makna konseptual sesungguhnya sama saja dengan makna leksikal, makna denotatif, dan makna referensial.
Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa. Misalnya, kata melati berasosiasi dengan sesuatu yang suci atau kesucian.
2.2.1.6 Makna Idiomatikal dan Peribahasa
Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat ”diramalkan” dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal. Contoh dari idiom adalah bentuk membanting tulang dengan makna ’bekerja keras’, meja hijau dengan makna ’pengadilan’.
Berbeda dengan idiom, peribahasa memiliki makna yang masih dapat ditelusuri atau dilacak dari makna unsur-unsurnya karena adanya ”asosiasi” antara makna asli dengan maknanya sebagai peribahasa. Umpamanya peribahasa Seperti anjing dengan kucing yang bermakna ’dikatakan ihwal dua orang yang tidak pernah akur’. Makna ini memiliki asosiasi, bahwa binatang yang namanya anjing dan kucing jika bersua memang selalu berkelahi, tidak pernah damai.
2.2.1.7 Makna Kias
Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan istilah arti kiasan digunakan sebagai oposisi dari arti sebenarnya. Oleh karena itu, semua bentuk bahasa (baik kata, frase, atau kalimat) yang tidak merujuk pada arti sebenarnya (arti leksikal, arti konseptual, atau arti denotatif) disebut mempunyai arti kiasan. Jadi, bentuk-bentuk seperti puteri malam dalam arti ’bulan’, raja siang dalam arti ’matahari’.











BAB III
MATODE

3.1 Rancangan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian ini, maka rancangan penelitian yang dipergunakan adalah deskriptif, yakni :
  1. Masalah yang penulis selidiki benar-benar merupakan masalah yang ada pada masa sekarang;
  2. Tujuan penelitian ini tidak semata-mata hanya mengumpulkan data saja, akan tetapi dilanjutkan dengan analisis dan penarikan kesimpulan.
3.2 Populasi dan Sampel Penelitian
3.2.1 Populasi
Populasi adalah semua sumber data yang dijadikan objek penelitian. Dalam penelitian ini, ditentukan populasi yaitu siswa kelas X SMAN 2 CIANJUR tahun ajar 2011-2012 sebanyak 40 orang siswa.
3.2.2 Sampel
Teknik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah sampel utuh atau sama dengan populasi. Alasan menggunakan sampel utuh, didasarkan pada populasi yang jumlahnya lebih dari 100, seperti pendapat yang dikemukakan oleh ( Arikunto, 1999:107 ).
Berdasarkan pendapat Arikunto dimuka, mengingat jumlah populasi   orang siswa maka yang dijadikan sampel penelitian sebanyak 20 orang siswa. Untuk lebih persentatif, maka dari    orang siswa tersebut secara acak diambil dari penyebaran populasi. Jadi pengambilan sampel tersebut secara random atau secara acak.

3.3  Instrumen
Instrumen yang peneliti gunakan yaitu jenis tes. Adapun tes tersebut adalah serangkaian pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh siswa. Tes tersebut berupa tes tulis, dengan soal :
“Buatlah kalimat dari kata “bapak” beserta maknanya!”

3.4 Variabel
Supaya tidak menimbulkan salah penfsiran dalam penelitian ini, perlu diberikan batasan atau defenisi masalah yang dibahas. Hal-hal yang perlu didefinisikan adalah sebagai berikut :
1.      Semantik adalah bidang linguistik yang mempelajari tentang tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya;
2.      Kata adalah adalah suatu unit dari suatu bahasa yang mengandung arti dan terdiri dari satu atau lebih morfem;
3.      Siswa adalah pelajar atau peserta didik mulai dari tingkat SD, SMP, dan SMA.
3.5 Analisis Data
3.5.1 Teknik Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dengan cara menganalisis karya siswa, menandai hal-hal yang telah ditentukan baik dari segi tema, maupun banyak sedikitnya paragraf, dan memindahkannya pada kertas data.
3.7 Teknik Mengolah Data
Setelah data terkumpul, selanjutnya data tersebut diolah. Langkah-langkah penulis mengolah data tersebut adalah sebagai berikut :
1.   Mengklasifikasi kalimat karya siswa berdasarkan kata dasar “bapak”;
2.   Menganalisis kesesuaian makna kata;
     









BAB IV
PENEMUAN HASIL PENELITIAN


4.1 Kemampuan Mengembangkan Kalimat
Untuk mengetahui kemampuan mengembangkan kalimat yang dimiliki siswa kelas X SMAN 2 CIANJUR, penulis mencoba mengadakan penelitian pada karya yang dibuat oleh siswa dengan ketentuan sebagai berikut :
Buatlah kalimat dari kata “bapak” beserta dengan maknanya!

Adapun kriteria pada penilaian yang disajikan tertera pada tabel berikut.
TABEL 4.1
KEMAMPUAN MENGEMBANGKAN KALIMAT
NO
KOMPONEN
BOBOT
1
Ketepatan Kalimat
5
2
Kesesuaian Makna Kata
5
3
Penggunaan Tanda Baca
5
4
Ketepatan EYD
5
JUMLAH
20

Dari komponen penelitian diatas, dibawah ini adalah hasil analisis dari kemampuan siswa adalah :
TABEL 4.2
ANALISIS HASIL
NO
NAMA
KOMPONEN
BOBOT
JML
NILAI
1
Tito Ridwan
Ketepatan Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan Tanda Baca
Ketepatan EYD
5
5
2
5
17
8.5
2



Yusi Safitri
Ketepatan Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan Tanda Baca
Ketepatan EYD
3
5
3
2
13
6.5
3
Nuridah
Ketepatan Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan Tanda Baca
Ketepatan EYD
5
5
2
3
15
7.5
4
Ilham M
Ketepatan Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan Tanda Baca
Ketepatan EYD
5
5
3
3
16
8
5
Joni Irawan
Ketepatan Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan Tanda Baca
Ketepatan EYD
3
5
3
3
14
7
6
Ginda Ginanjar
Ketepatan Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan Tanda Baca
Ketepatan EYD
4
5
3
2
14
7
7
Supiadin
Ketepatan Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan Tanda Baca
Ketepatan EYD
5
5
2
2
14
7
8
Arif Rahman
Ketepatan Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan Tanda Baca
Ketepatan EYD
3
5
2
2
12
6
9
Asti Sulastri
Ketepatan Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan Tanda Baca
Ketepatan EYD
5
4
3
2
14
7
10
Dede Abdul Azis
Ketepatan Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan Tanda Baca
Ketepatan EYD
5
4
2
2
13
6.5
11
Muhammad Yusuf
Ketepatan Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan Tanda Baca
Ketepatan EYD
5
5
3
3
16
8
12
Mubarik
Ketepatan Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan Tanda Baca
Ketepatan EYD
5
5
3
3
16
8
13
Mita Purnamasari
Ketepatan Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan Tanda Baca
Ketepatan EYD
5
5
3
3
16
8
14
Dede Siti F
Ketepatan Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan Tanda Baca
Ketepatan EYD
5
4
3
3
15
7.5
15
Hari Suhendar
Ketepatan Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan Tanda Baca
Ketepatan EYD
5
5
3
2
15
7.5
16
Pandu Rohman
Ketepatan Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan Tanda Baca
Ketepatan EYD
5
5
3
3
16
8
17
Hendra D
Ketepatan Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan Tanda Baca
Ketepatan EYD
5
4
3
2
14
7
18
Arif Hendriansyah
Ketepatan Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan Tanda Baca
Ketepatan EYD
4
4
2
2
12
6
19
Cici Nursafitri
Ketepatan Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan Tanda Baca
Ketepatan EYD
4
3
2
2
11
5.5
20
Kamaludin
Ketepatan Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan Tanda Baca
Ketepatan EYD
5
4
2
2
13
6.5

TABEL 4.3
SKOR DAN NILAI PENGEMBANGAN KALIMAT KARYA SISWA
NO
NAMA
SKOR
NILAI
KET
1
Tito Ridwan
17
8.5

2
Yusi Safitri
13
6.5

3
Nuridah
15
7.5

4
Ilham M
16
8

5
Joni Irawan
14
7

6
Ginda Ginanjar
14
7

7
Supiadin
14
7

8
Arif Rahman
12
6

9
Asti Sulastri
14
7

10
Dede Abdul Azis
13
6.5

11
Muhammad Yusuf
16
8

12
Mubarik
16
8

13
Mita Purnamasari
16
8

14
Dede Siti F
15
7.5

15
Hari Suhendar
15
7.5

16
Pandu Rohman
16
8

17
Hendra D
14
7

18
Arif Hendriansyah
12
6

19
Cici Nursafitri
11
5.5

20
Kamaludin
13
6.5

JUMLAH
286
143

            Penentuan kemampuan siswa terhadap tinggi rendahnya dalam mengembangkan kalimat dari makna kata “bapak”, dapat dilihat dengan menghitung rata-rata nilai sebagai berikut :
Nilai                         143
        Jumlah Siswa      =        20          = 7.15
           
            Agar lebih lengkap lagi tinggi atau rendahnya kemampuan siswa mengembangkan makna kata “bapak” dapat dilihat pada table berikut :
TABEL 4.4
FORMASI NILAI KEMAMPUAN SISWA DALAM MENGEMBANGKAN MAKNA KATA “BAPAK”
NILAI RATA-RATA
UKURAN
8 – 10
Tinggi
6 – 7.5
Sedang
0 – 5.5
Kurang
BAB V
SIMPULAN DAN REKOMENDASI

5.1     Simpulan
  1. Setelah mengumpulkan data, mempelajari, serta mengolahnya, maka penulis menarik kesimpulan bahwa penggunaan ilmu semantik terhadap kata “bapak” siswa kelas X SMAN 2 Cianjur tahun ajar 2011-2012 cukup baik. Hal ini terbukti dari nilai rata-rata siswa berada pada klasifikasi sedang yaitu dengan nilai 7.15.
  2. Siswa kelas X SMAN 2 Cianjur tahun ajar 2011-2012, memiliki tingkat prestasi sedang dalam pembelajaran bahasa khususnya dalam mengembangkan kata menjadi kalimat. Terbukti dari hasil penelitian, dari 20 orang siswa memiliki nilai yang cukup signifikan yaitu 7.15.

5.2 Rekomendasi
Bertitik dari simpulan yang telah dirumuskan diatas, maka pada bagian ini penulis akan mengemukakan beberapa rekomendasi sebagai masukan untuk meningkatkan keefektivitasan dalam berekspresi.
1.      Guru senantiasa membangkitkan gairah atau minat siswa, sehingga memiliki kemampuan mengembangkan kalimat yang cukup baik.
2.      Upayakan setiap pertemuan menggunakan alat pengajaran, karena alat tersebut akan mampu mengundang perhatian dan menumbuhkan kemampuan siswa dalam belajar.
3.      Agar tidak monoton dan siswa tidak cepat jenuh, guru sebaiknya dapat mengupayakan dengan menyajikan materi pelajaran dengan cara, teknik, dan metode yang bervariasi.





DAFTAR PUSTAKA

Aminudin. 1988. Semantik. Bandung: Sinar Baru.
Alwi, Hasan dkk. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka
Arikunto, Suharsimi. 1992. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta : PT Rineka Cipta.
Cahyono, Bambang Yudi. 1994. Kristal-Kristal Ilmu Bahasa. Surabaya:
Airlangga University Press.
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Chaer, Abdul. 1994. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka
Cipta.
Kushartanti, Untung Yuwono, dan Multamia RMT Lauder. 2005. Pesona Bahasa
Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama.
Rois, Munawar. 2008. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, Cianjur : FKIP
Universitas Suryakancana.   
Sudjana, Nana. 1987. Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah, Bandung : Sinar Baru
Algensindo.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar