PENGGUNAAN
ILMU SEMANTIK TERHADAP KATA “BAPAK”
SISWA
KELAS X SMAN 2 CIANJUR TAHUN AJAR 2011-2012
Laporan
Diajukan untuk Melengkapi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah Semantik
oleh
AI
ANI NANI FITRIAH
RIZCA
DESIANA SELASTIAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SURYAKANCANA
CIANJUR
2011
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang Masalah
Bahasa merupakan alat komunikasi yang
sangat penting untuk menyampaikan informasi atau pesan. Melalui kemampuan
berbahasa manusia dapat berkomunikasi dengan dunia luar baik secara lisan maupn
tertulis. Keterampilan berbahasa mencakup empat aspek, yaitu keterampilan
menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Salah satu keterampilan berbahasa
yang harus dikuasai pengguna bahasa adalah menulis. Menulis merupakan salah
satu proses yang dilakukan penulis untuk menyampaikan idea tau gagasan dalam
bentuk tulisan.
Ada dua cabang utama linguistik yang
khusus menyangkut kata yaitu etimologi, studi tentang asal usul kata,
dan semantik atau ilmu makna, studi tentang makna kata. Di
antara kedua ilmu itu, etimologi sudah merupakan disiplin ilmu yang lama mapan
(established), sedangkan semantik relatif merupakan hal yang baru.
Kata semantik berasal dari
bahasa Yunani sema yang artinya tanda atau lambang (sign). “Semantik”
pertama kali digunakan oleh seorang filolog Perancis bernama Michel Breal pada
tahun 1883. Kata semantik kemudian disepakati sebagai istilah yang digunakan
untuk bidang linguistik yang mempelajari tentang tanda-tanda linguistik dengan
hal-hal yang ditandainya. Oleh karena itu, kata semantik dapat diartikan
sebagai ilmu tentang makna atau tentang arti, yaitu salah satu dari tiga
tataran analisis bahasa: fonologi, gramatika, dan semantik (Chaer, 1994: 2).
Menurut teori yang dikembangkan dari
pandangan Ferdinand de Saussure, makna adalah ’pengertian’ atau ’konsep’ yang dimiliki
atau terdapat pada sebuah tanda-linguistik. Menurut de Saussure, setiap tanda
linguistik terdiri dari dua unsur, yaitu (1) yang diartikan (Perancis: signifie,
Inggris: signified) dan (2) yang mengartikan (Perancis: signifiant,
Inggris: signifier). Yang diartikan (signifie, signified)
sebenarnya tidak lain dari pada konsep atau makna dari sesuatu tanda-bunyi.
Sedangkan yang mengartikan (signifiant atau signifier) adalah bunyi-bunyi yang
terbentuk dari fonem-fonem bahasa yang bersangkutan. Dengan kata lain, setiap
tanda-linguistik terdiri dari unsur bunyi dan unsur makna.
Kedua unsur ini adalah unsur dalam-bahasa (intralingual) yang biasanya
merujuk atau mengacu kepada sesuatu referen yang merupakan unsur luar-bahasa
(ekstralingual).
Berdasarkan uraian diatas, maka seorang
pengajar harus kreatif dalam memberikan bahan ajar bukan hanya terpaku pada
buku teks saja, melainkan dengan mengolah kemampuannya, dalam menyusun bahan
ajar yang sesuai dengan kemampuan siswa, sehingga siswa tersebut dengan mudah mencernanya.
Dengan alasan tersebut, maka penulis
mangambil judul PENGGUNAAN ILMU SEMANTIK TERHADAP KATA “BAPAK” SISWA KELAS X
SMAN 2 CIANJUR TAHUN AJAR 2011-2012
1.2
Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah bukan saja untuk
memudahkan dan menyederhanakan masalah bagi peneliti, tetapi juga untuk
menetapkan terlebih dahulu segala sesuatu yang diperlukan untuk memecahkannya.
Misalnya tenaga, kecekatan, waktu, biaya yang timbul dari rencana itu
(Surakhmad, 1985:36).
Jadi setiap masalah yang diteliti tentu
saja harus dibatasi ruang lingkupnya, hal ini untuk memusatkan penelitian
terhadap objek yang ditelitinya.
Penelitian tentang kemampuan menulis
kalimat dari makn kata, relatif luas antara lain mencakup pra penulisan, saat
penulisan, dan pasca penulisan. Dalam penelitian ini dibatasi pada kalimat yang
berkaitan dengan empat kemampuan, yaitu.
- Makna
kata “bapak” untuk sebutan kepada ayah;
- Makna
kata “bapak” untuk sebutan kepada orang yang lebih tua (laki-laki);
- Makna
kata “bapak” untuk sebutan kepada guru laki-laki;
- Makna
kata “bapak” untuk sebutan kepada pejabat laki-laki;
1.3
Konteks
Berdasarkan masalah yang penulis ajukan
di atas, maka penulis merumuskan masalah penelitian sebagai berikut :
1. Apakah
siswa kelas X SMAN 2 CIANJUR TAHUN AJAR 2011-2012 mampu mengembangkan makna
kata sesuai dengan kalimat?
2. Apakah
siswa kelas X SMAN 2 CIANJUR TAHUN AJAR 2011-2012 mampu menyusun jenis kata
dengan tepat?
3. Apakah
siswa kelas X SMAN 2 CIANJUR TAHUN AJAR 2011-2012 mampu menggunakan bahasa yang baik dan benar
pada pada kalimat yang dibuat oleh siswa?
4. Apakah
siswa kelas X SMAN 2 CIANJUR TAHUN AJAR 2011-2012 mampu mengembangkan kalimat
dari sebuah kata?
1.4
Tujuan
Penelitian
Sesuai dengan perumusan masalah
penelitian yang telah dikemukakan diatas, maka tujuan penulis dalam penelitian
ini adalah :
1. Mengembangkan
makna kata sesuai dengan kalimat;
2. Menyusun
jenis kata dengan tepat;
3. Menggunakan
bahasa yang baik dan benar;
4. Mengembangkan
kalimat dari sebuah kata.
1.5 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini, diharapkan dapat
memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis. Adapun manfaat
penelitan yang dimaksud adalah :
1. Guru
dapat menemukan bakat yang beragam dan memberi kesempatan serta membimbing
siswa;
2. Bagi
peneliti, selain menambah wawasan peneliti juga dapat mengetahui sejauh mana
siswa dapat mengembangkan kata menjadi kalimat;
3.
Untuk meningkatkan
kualitas pembelajaran menulis kalimat dikelas X SMAN 2 CIANJUR TAHUN AJAR
2011-2012.
1.6
Anggapan Dasar
Anggapan dasar adalah sesuatu yang
diakui kebenarannya oleh penulis yang akan berfungsi sebagai hal-hal yang
dipakai untuk tempat berpijak bagi penelitinya (Arikunto, 1991:17).
Anggapan dasar identik dengan teori dan
dasar pemikiran yang dijadikan dasar berpijak permasalahan. Penelitian ini
dapat dilakukan karena memiliki anggapan dasar sebagai titik tolak. Titik tolak
penelitian ini adalah sebagai berikut:
- Menulis
atau mengembangkan sebuah kalimat bisa dilakukan berdasarkan EYD;
- Pembelajaran
menulis kalimat merupakan pembelajaran bahasa Indonesia yang tercantum
dalam SK dan KD Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan;
- Melalui
pembelajaran mengembangkan sebuah kalimat, dapat ditanamkan rasa peka
sekaligus dampak positif pada siswa;
- Pengajaran
mengembangkan kalimat dapat mendukung dalam keterampilan berbahasa
(menyimak, berbicara, menulis dan membaca).
1.7
Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara atas
masalah yang diteliti dan perlu diuji lebih lanjut kebenarannya. Berdasarkan
asumsi tersebut, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah :
1.
Siswa kelas X SMAN 2
CIANJUR TAHUN AJAR 2011-2012 mampu mengembangkan makna kata sesuai dengan
kalimat;
2.
Siswa kelas X SMAN 2
CIANJUR TAHUN AJAR 2011-2012 mampu menyusun jenis kata dengan tepat;
3.
Siswa kelas X SMAN 2
CIANJUR TAHUN AJAR 2011-2012 mampu
menggunakan bahasa yang baik dan benar pada pada kalimat yang dibuat oleh siswa;
4.
Siswa kelas X SMAN 2
CIANJUR TAHUN AJAR 2011-2012 mampu mengembangkan kalimat dari sebuah kata.
5.
Tingkat kemampuan mengembangkan
sebuah kalimat siswa sangat baik.
1.8
Metode Penelitian
Metode penelitan merupakan cara utama
yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan, misalnya untuk menguji serangkaian
hipotesis dengan menggunakan teknik-teknik serta sifat-sifat tertentu (Winarno
Surachmad, 1989:131).
Metode yang digunakan dalam penelitian
ini adalah metode deskriptif, yaitu dengan cara mencari fakta-fakta dan data
serta informasi, sehingga menjadi teori dengan melihat sifat-sifat objek
penelitian secara sistematis, logis, faktual dan akurat. Pemerolehan data
berupa karangan siswa dideskripsikan berdasarkan hasil penelitian dengan
kriteria yang sudah ditentukan.
Selain alasan diatas, metode ini
digunakan untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai kemampuan siswa dalam
mengembangkan kalimat siswa kelas X SMAN 2 CIANJUR TAHUN AJAR 2011-2012.
1.9
Teknik Penelitian
Teknik yang digunakan dalam penelitian
ini adalah sebagi berikut :
1. Teknik Studi
Pustaka
Peneliti berusaha melengkapi buku-buku
serta tulisan-tulisan para ahli yang erat hubungannya dengan permasalahan yang
diteliti.
2. Teknik Tes
Teknik tes digunakan untuk mengukur
kemampuan siswa dalam menulis puisi secara baik dan benar, sehingga menjadi
sample penelitian.
3. Teknik
Analisis
Menganalisis hasil menulis kalimat dari
kata “bapak” yang dijadikan sampel penelitian, sehingga diperoleh tingkat
kemampuan menulis kalimat pada anggota sampel.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1
Definisi Semantik
Kata semantik berasal dari
bahasa Yunani sema yang artinya tanda atau lambang (sign). “Semantik”
pertama kali digunakan oleh seorang filolog Perancis bernama Michel Breal pada
tahun 1883. Kata semantik kemudian disepakati sebagai istilah yang digunakan
untuk bidang linguistik yang mempelajari tentang tanda-tanda linguistik dengan
hal-hal yang ditandainya. Oleh karena itu, kata semantik dapat diartikan
sebagai ilmu tentang makna atau tentang arti, yaitu salah satu dari tiga
tataran analisis bahasa: fonologi, gramatika, dan semantik (Chaer, 1994: 2).
Kata
semantik ini kemudian dijadikan sebagai istilah yang digunakan untuk bidang
linguistik yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal
yang ditandainya. Atau denga kata lain, bidang linguistik yang mempelajari
makna atau erti dalam bahasa. Oleh kerana itu, kata sematik dapat diertikan
sebagai ilmu tentang makna atau tentang erti, iaitu salah satu daripada tiga
tataran analisis bahasa termasuklah fonologi, gramatik dan semantik.
Selain istilah semantik dalam sejarah linguistik terdapat
juga istilah lain yang digunakan seperti semiotik, semiologi, semasiologi,
sememik dan semik untuk merujuk pada bidang yang mengkaji makna atau erti daripada
suatu tanda atau lambang. Namun, istilah
semantik lebih umum digunakan dalam kajian linguistik kerana istilah-istilah
tersebut mempunyai bidang cakupan objek yang lebih luas, yakni mencakupi makna
tanda atau lambang pada umumnya. Termasuk tanda-tanda lalu lintas, kod,
tanda-tanda dalam ilmu matematik dan banyak lagi. Sedangkan cakupan ilmu
semantik hanyalah makna atau erti yang berkenaan dengan bahasa sebagai alat
komunikasi verbal. Oleh itu, kita harus berhati-hati memakai kata bahasa.
Menurut Leech (1974), yang melihat semantik sebagai fenomena linguistik perlu
diberi penekanan yang serius. Hubungan makna dengan bahasa adalah apat, khusus
dala ayat. Jadi, untuk mengkaji makna kita perlu mengkaji hubungan perkataan
dengan ujaran. Seseorang yang mengetahui semantik akan berupaya mengenali
ujaran atau ungkapan yang bersifat ’tidak semantik’ yakni tidak masuk
akal logik atau ayatnya sukar diterima logik. Menurut Ogden dan Richard (1923),
makna dilihat sebagai ’pengaruh bahasa terhadap pemikiran’. Bagaimana penutur
dan penerima menggunakan pemikiran mentafsir makna. Kepelbagaian takrifan di
atas berlaku kerana para sarjana akan membuat interpretasi menurut fahaman dan
latihan yang mereka perolehi dan selalunya dipengaruhi dengan bidang yang
mereka ceburi.
2.2
Hakikat Makna
Menurut teori yang dikembangkan dari
pandangan Ferdinand de Saussure, makna adalah ’pengertian’ atau ’konsep’ yang
dimiliki atau terdapat pada sebuah tanda-linguistik. Menurut de Saussure,
setiap tanda linguistik terdiri dari dua unsur, yaitu (1) yang diartikan
(Perancis: signifie, Inggris: signified) dan (2) yang
mengartikan (Perancis: signifiant, Inggris: signifier). Yang
diartikan (signifie, signified) sebenarnya tidak lain dari
pada konsep atau makna dari sesuatu tanda-bunyi. Sedangkan yang mengartikan
(signifiant atau signifier) adalah bunyi-bunyi yang terbentuk dari fonem-fonem
bahasa yang bersangkutan. Dengan kata lain, setiap tanda-linguistik terdiri
dari unsur bunyi dan unsur makna. Kedua unsur ini adalah
unsur dalam-bahasa (intralingual) yang biasanya merujuk atau mengacu
kepada sesuatu referen yang merupakan unsur luar-bahasa
(ekstralingual).
Dalam bidang semantik istilah yang biasa
digunakan untuk tanda-linguistik itu adalah leksem, yang lazim didefinisikan
sebagai kata atau frase yang merupakan satuan bermakna (Harimurti, 1982:98).
Sedangkan istilah kata,yang lazim didefinisikan sebagai satuan bahasa yang
dapat berdiri sendiri yang dapat terjadi dari morfem tunggal atau gabungan
morfem (Harimurti, 1982:76) adalah istilah dalam bidang gramatika. Dalam
makalah ini kedua istilah itu dianggap memiliki pengertian yang sama.
Yang perlu dipahami adalah tidak semua
kata atau leksem itu mempunyai acuan konkret di dunia nyata. Misalnya leksem
seperti agama, cinta, kebudayaan, dan keadilan tidak dapat ditampilkan
referennya secara konkret. Di dalam penggunaannya dalam pertuturan, yang nyata
makna kata atau leksem itu seringkali, dan mungkin juga biasanya, terlepas dari
pengertian atau konsep dasarnya dan juga dari acuannya. Misal kata buaya
dalam kalimat (1).
(1). Dasar buaya, ibunya
sendiri ditipunya.
Oleh karena itu, kita baru dapat
menentukan makna sebuah kata apabila kata itu sudah berada dalam konteks
kalimatnya. Makna sebuah kalimat baru dapat ditentukan apabila kalimat itu
berada di dalam konteks wacananya atau konteks situasinya. Contoh, seorang
setelah memeriksa buku rapor anaknya dan melihat angka-angka dalam buku rapor
itu banyak yang merah, berkata kepada anaknya dengan nada memuji.
(2). ”Rapormu bagus sekali, Nak!”
Jelas, dia tidak bermaksud memuji
walaupun nadanya memuji. Dengan kalimat itu dia sebenarnya bermaksud menegur
tau mungkin mengejek anaknya itu.
2.2.1
Jenis Makna
Menurut Chaer (1994), makna dapat
dibedakan berdasarkan beberapa kriteria dan sudut pandang. Berdasarkan jenis
semantiknya, dapat dibedakan antara makna leksikal dan makna gramatikal,
berdasarkan ada atau tidaknya referen pada sebuah kata atau leksem dapat
dibedakan adanya makna referensial dan makna nonreferensial, berdasarkan ada
tidaknya nilai rasa pada sebuah kata/leksem dapat dibedakan adanya makna
denotatif dan makna konotatif, berdasarkan ketepatan maknanya dikenal makna
kata dan makna istilah atau makna umum dan makna khusus. Lalu berdasarkan
kriteri lain atau sudut pandang lain dapat disebutkan adanya makna-makna
asosiatif, kolokatif, reflektif, idiomatik dan sebagainya.
2.2.1.1 Makna Leksikal dan Makna
Gramatikal
Leksikal adalah bentuk adjektif yang
diturunkan dari bentuk nomina leksikon. Satuan dari leksikon adalah leksem,
yaitu satuan bentuk bahasa yang bermakna. Kalau leksikon kita samakan dengan
kosakata atau perbendaharaan kata, maka leksem dapat kita persamakan dengan
kata. Dengan demikian, makna leksikal dapat diartikan sebagai makna yang
bersifat leksikon, bersifat leksem, atau bersifat kata. Lalu, karena itu, dapat
pula dikatakan makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan referennya, makna
yang sesuai dengan hasil observasi alat indera, atau makna yang sungguh-sungguh
nyata dalam kehidupan kita (Chaer, 1994). Umpamanya kata tikus makna leksikalnya
adalah sebangsa binatang pengerat yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit
tifus. Makna ini tampak jelas dalam kalimat Tikus itu mati diterkam kucing,
atau Panen kali ini gagal akibat serangan hama tikus.
Makna leksikal biasanya dipertentangkan
dengan makna gramatikal. Kalau makna leksikal berkenaan dengan makna leksem
atau kata yang sesuai dengan referennya, maka makna gramatikal ini adalah makna
yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatika seperti proses afiksasi,
proses reduplikasi, dan proses komposisi (Chaer, 1994). Proses afiksasi awalan
ter- pada kata angkat dalam kalimat Batu seberat itu terangkat juga oleh
adik, melahirkan makna ’dapat’, dan dalam kalimat Ketika balok itu
ditarik, papan itu terangkat ke atas melahirkan makna gramatikal ’tidak
sengaja’.
2.2.1.2 Makna Referensial dan
Nonreferensial
Perbedaan makna referensial dan makna
nonreferensial berdasarkan ada tidak adanya referen dari kata-kata itu. Bila
kata-kata itu mempunyai referen, yaitu sesuatu di luar bahasa yang diacu oleh kata
itu, maka kata tersebut disebut kata bermakna referensial. Kalau kata-kata itu
tidak mempunyai referen, maka kata itu disebut kata bermakna nonreferensial.
Kata meja termasuk kata yang bermakna referensial karena mempunyai
referen, yaitu sejenis perabot rumah tangga yang disebut ’meja’. Sebaliknya
kata karena tidak mempunyai referen, jadi kata karena
termasuk kata yang bermakna nonreferensial.
2.2.1.3 Makna Denotatif dan Konotatif
Makna denotatif pada dasarnya sama
dengan makna referensial sebab makna denotatif lazim diberi penjelasan sebagai
makna yang sesuai dengan hasil observasi menurut penglihatan, penciuman,
pendengaran, perasaan, atau pengalaman lainnya. Jadi, makna denotatif ini
menyangkut informasi-informasi faktual objektif. Oleh karena itu, makna
denotasi sering disebut sebagai ’makna sebenarnya’(Chaer, 1994). Umpama kata perempuan
dan wanita kedua kata itu mempunyai dua makna yang sama, yaitu
’manusia dewasa bukan laki-laki’.
Sebuah kata disebut mempunyai makna
konotatif apabila kata itu mempunyai ”nilai rasa”, baik positif maupun negatif.
Jika tidak memiliki nilai rasa maka dikatakan tidak memiliki konotasi. Tetapi
dapat juga disebut berkonotasi netral. Makna konotatif dapat juga berubah dari
waktu ke waktu. Misalnya kata ceramah dulu kata ini berkonotasi
negatif karena berarti ’cerewet’, tetapi sekarang konotasinya positif.
2.2.1.4 Makna Kata dan Makna Istilah
Setiap kata atau leksem memiliki makna,
namun dalam penggunaannya makna kata itu baru menjadi jelas kalau kata itu
sudah berada di dalam konteks kalimatnya atau konteks situasinya. Berbeda
dengan kata, istilah mempunyai makna yang jelas, yang pasti, yang
tidak meragukan, meskipun tanpa konteks kalimat. Oleh karena itu sering
dikatakan bahwa istilah itu bebas konteks. Hanya perlu diingat bahwa
sebuah istilah hanya digunakan pada bidang keilmuan atau kegiatan tertentu.
Perbedaan antara makna kata dan istilah dapat dilihat dari contoh berikut
(1) Tangannya luka kena pecahan kaca.
(2) Lengannya luka kena pecahan kaca.
Kata tangan dan lengan
pada kedua kalimat di atas adalah bersinonim atau bermakna sama. Namun dalam
bidang kedokteran kedua kata itu memiliki makna yang berbeda. Tangan
bermakna bagian dari pergelangan sampai ke jari tangan; sedangkan lengan
adalah bagian dari pergelangan sampai ke pangkal bahu.
2.2.1.5 Makna Konseptual dan Makna
Asosiatif
Leech (1976) membagi makna menjadi makna
konseptual dan makna asosiatif. Yang dimaksud dengan makna konseptual adalah
makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apa
pun. Kata kuda memiliki makna konseptual ’sejenis binatang berkaki
empat yang biasa dikendarai’. Jadi makna konseptual sesungguhnya sama saja
dengan makna leksikal, makna denotatif, dan makna referensial.
Makna asosiatif adalah makna yang
dimiliki sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu
dengan sesuatu yang berada di luar bahasa. Misalnya, kata melati
berasosiasi dengan sesuatu yang suci atau kesucian.
2.2.1.6 Makna Idiomatikal dan
Peribahasa
Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya
tidak dapat ”diramalkan” dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun
secara gramatikal. Contoh dari idiom adalah bentuk membanting tulang
dengan makna ’bekerja keras’, meja hijau dengan makna ’pengadilan’.
Berbeda dengan idiom, peribahasa memiliki
makna yang masih dapat ditelusuri atau dilacak dari makna unsur-unsurnya karena
adanya ”asosiasi” antara makna asli dengan maknanya sebagai peribahasa.
Umpamanya peribahasa Seperti anjing dengan kucing yang bermakna
’dikatakan ihwal dua orang yang tidak pernah akur’. Makna ini memiliki
asosiasi, bahwa binatang yang namanya anjing dan kucing jika bersua memang
selalu berkelahi, tidak pernah damai.
2.2.1.7 Makna Kias
Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan
istilah arti kiasan digunakan sebagai oposisi dari arti sebenarnya. Oleh karena
itu, semua bentuk bahasa (baik kata, frase, atau kalimat) yang tidak merujuk
pada arti sebenarnya (arti leksikal, arti konseptual, atau arti denotatif)
disebut mempunyai arti kiasan. Jadi, bentuk-bentuk seperti puteri malam
dalam arti ’bulan’, raja siang dalam arti ’matahari’.
BAB III
MATODE
3.1
Rancangan Penelitian
Berdasarkan
rumusan masalah dan tujuan penelitian ini, maka rancangan penelitian yang
dipergunakan adalah deskriptif, yakni :
- Masalah
yang penulis selidiki benar-benar merupakan masalah yang ada pada masa
sekarang;
- Tujuan
penelitian ini tidak semata-mata hanya mengumpulkan data saja, akan tetapi
dilanjutkan dengan analisis dan penarikan kesimpulan.
3.2
Populasi dan Sampel Penelitian
3.2.1
Populasi
Populasi adalah semua sumber data yang
dijadikan objek penelitian. Dalam penelitian ini, ditentukan populasi yaitu
siswa kelas X SMAN 2 CIANJUR tahun ajar 2011-2012 sebanyak 40 orang siswa.
3.2.2 Sampel
Teknik pengambilan sampel yang digunakan
pada penelitian ini adalah sampel utuh atau sama dengan populasi. Alasan
menggunakan sampel utuh, didasarkan pada populasi yang jumlahnya lebih dari
100, seperti pendapat yang dikemukakan oleh ( Arikunto, 1999:107 ).
Berdasarkan pendapat Arikunto dimuka,
mengingat jumlah populasi orang siswa
maka yang dijadikan sampel penelitian sebanyak 20 orang siswa. Untuk lebih
persentatif, maka dari orang siswa tersebut secara acak diambil dari
penyebaran populasi. Jadi pengambilan sampel tersebut secara random atau secara
acak.
3.3
Instrumen
Instrumen
yang peneliti gunakan yaitu jenis tes. Adapun tes tersebut adalah serangkaian
pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan pengetahuan,
intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh siswa. Tes tersebut berupa
tes tulis, dengan soal :
“Buatlah
kalimat dari kata “bapak” beserta maknanya!”
3.4
Variabel
Supaya tidak menimbulkan salah penfsiran
dalam penelitian ini, perlu diberikan batasan atau defenisi masalah yang
dibahas. Hal-hal yang perlu didefinisikan adalah sebagai berikut :
1.
Semantik adalah bidang
linguistik yang mempelajari tentang tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang
ditandainya;
2.
Kata adalah adalah
suatu unit dari suatu bahasa yang mengandung arti dan terdiri dari satu atau lebih morfem;
3.
Siswa adalah pelajar
atau peserta didik mulai dari tingkat SD, SMP, dan SMA.
3.5 Analisis
Data
3.5.1 Teknik
Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dengan cara
menganalisis karya siswa, menandai hal-hal yang telah ditentukan baik dari segi
tema, maupun banyak sedikitnya paragraf, dan memindahkannya pada kertas data.
3.7
Teknik Mengolah Data
Setelah data terkumpul, selanjutnya data
tersebut diolah. Langkah-langkah penulis mengolah data tersebut adalah sebagai
berikut :
1.
Mengklasifikasi kalimat
karya siswa berdasarkan kata dasar “bapak”;
2.
Menganalisis kesesuaian
makna kata;
BAB IV
PENEMUAN HASIL PENELITIAN
4.1
Kemampuan Mengembangkan Kalimat
Untuk mengetahui kemampuan mengembangkan
kalimat yang dimiliki siswa kelas X SMAN 2 CIANJUR, penulis mencoba mengadakan
penelitian pada karya yang dibuat oleh siswa dengan ketentuan sebagai berikut :
Buatlah kalimat dari kata “bapak”
beserta dengan maknanya!
Adapun kriteria pada penilaian yang
disajikan tertera pada tabel berikut.
TABEL
4.1
KEMAMPUAN
MENGEMBANGKAN KALIMAT
|
NO
|
KOMPONEN
|
BOBOT
|
|
1
|
Ketepatan
Kalimat
|
5
|
|
2
|
Kesesuaian
Makna Kata
|
5
|
|
3
|
Penggunaan
Tanda Baca
|
5
|
|
4
|
Ketepatan EYD
|
5
|
|
JUMLAH
|
20
|
|
Dari komponen penelitian diatas, dibawah
ini adalah hasil analisis dari kemampuan siswa adalah :
TABEL 4.2
ANALISIS HASIL
|
NO
|
NAMA
|
KOMPONEN
|
BOBOT
|
JML
|
NILAI
|
|
1
|
Tito Ridwan
|
Ketepatan
Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan
Tanda Baca
Ketepatan EYD
|
5
5
2
5
|
17
|
8.5
|
|
2
|
Yusi Safitri
|
Ketepatan
Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan
Tanda Baca
Ketepatan EYD
|
3
5
3
2
|
13
|
6.5
|
|
3
|
Nuridah
|
Ketepatan
Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan
Tanda Baca
Ketepatan EYD
|
5
5
2
3
|
15
|
7.5
|
|
4
|
Ilham M
|
Ketepatan
Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan
Tanda Baca
Ketepatan EYD
|
5
5
3
3
|
16
|
8
|
|
5
|
Joni Irawan
|
Ketepatan
Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan
Tanda Baca
Ketepatan EYD
|
3
5
3
3
|
14
|
7
|
|
6
|
Ginda Ginanjar
|
Ketepatan
Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan
Tanda Baca
Ketepatan EYD
|
4
5
3
2
|
14
|
7
|
|
7
|
Supiadin
|
Ketepatan
Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan
Tanda Baca
Ketepatan EYD
|
5
5
2
2
|
14
|
7
|
|
8
|
Arif Rahman
|
Ketepatan
Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan
Tanda Baca
Ketepatan EYD
|
3
5
2
2
|
12
|
6
|
|
9
|
Asti Sulastri
|
Ketepatan
Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan
Tanda Baca
Ketepatan EYD
|
5
4
3
2
|
14
|
7
|
|
10
|
Dede Abdul
Azis
|
Ketepatan
Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan
Tanda Baca
Ketepatan EYD
|
5
4
2
2
|
13
|
6.5
|
|
11
|
Muhammad Yusuf
|
Ketepatan
Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan Tanda
Baca
Ketepatan
EYD
|
5
5
3
3
|
16
|
8
|
|
12
|
Mubarik
|
Ketepatan
Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan
Tanda Baca
Ketepatan
EYD
|
5
5
3
3
|
16
|
8
|
|
13
|
Mita
Purnamasari
|
Ketepatan
Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan
Tanda Baca
Ketepatan
EYD
|
5
5
3
3
|
16
|
8
|
|
14
|
Dede Siti F
|
Ketepatan
Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan
Tanda Baca
Ketepatan
EYD
|
5
4
3
3
|
15
|
7.5
|
|
15
|
Hari Suhendar
|
Ketepatan
Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan
Tanda Baca
Ketepatan
EYD
|
5
5
3
2
|
15
|
7.5
|
|
16
|
Pandu Rohman
|
Ketepatan
Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan
Tanda Baca
Ketepatan
EYD
|
5
5
3
3
|
16
|
8
|
|
17
|
Hendra D
|
Ketepatan
Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan
Tanda Baca
Ketepatan
EYD
|
5
4
3
2
|
14
|
7
|
|
18
|
Arif
Hendriansyah
|
Ketepatan
Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan
Tanda Baca
Ketepatan
EYD
|
4
4
2
2
|
12
|
6
|
|
19
|
Cici
Nursafitri
|
Ketepatan
Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan
Tanda Baca
Ketepatan
EYD
|
4
3
2
2
|
11
|
5.5
|
|
20
|
Kamaludin
|
Ketepatan
Kalimat Kesesuaian Makna Kata
Penggunaan
Tanda Baca
Ketepatan
EYD
|
5
4
2
2
|
13
|
6.5
|
TABEL 4.3
SKOR DAN NILAI PENGEMBANGAN KALIMAT KARYA SISWA
|
NO
|
NAMA
|
SKOR
|
NILAI
|
KET
|
|
1
|
Tito Ridwan
|
17
|
8.5
|
|
|
2
|
Yusi Safitri
|
13
|
6.5
|
|
|
3
|
Nuridah
|
15
|
7.5
|
|
|
4
|
Ilham M
|
16
|
8
|
|
|
5
|
Joni Irawan
|
14
|
7
|
|
|
6
|
Ginda Ginanjar
|
14
|
7
|
|
|
7
|
Supiadin
|
14
|
7
|
|
|
8
|
Arif Rahman
|
12
|
6
|
|
|
9
|
Asti Sulastri
|
14
|
7
|
|
|
10
|
Dede Abdul
Azis
|
13
|
6.5
|
|
|
11
|
Muhammad Yusuf
|
16
|
8
|
|
|
12
|
Mubarik
|
16
|
8
|
|
|
13
|
Mita
Purnamasari
|
16
|
8
|
|
|
14
|
Dede Siti F
|
15
|
7.5
|
|
|
15
|
Hari Suhendar
|
15
|
7.5
|
|
|
16
|
Pandu Rohman
|
16
|
8
|
|
|
17
|
Hendra D
|
14
|
7
|
|
|
18
|
Arif
Hendriansyah
|
12
|
6
|
|
|
19
|
Cici
Nursafitri
|
11
|
5.5
|
|
|
20
|
Kamaludin
|
13
|
6.5
|
|
|
JUMLAH
|
286
|
143
|
|
|
Penentuan kemampuan siswa terhadap
tinggi rendahnya dalam mengembangkan kalimat dari makna kata “bapak”, dapat
dilihat dengan menghitung rata-rata nilai sebagai berikut :
Jumlah Siswa = 20 = 7.15
Agar lebih lengkap lagi
tinggi atau rendahnya kemampuan siswa mengembangkan makna kata “bapak” dapat
dilihat pada table berikut :
TABEL
4.4
FORMASI
NILAI KEMAMPUAN SISWA DALAM MENGEMBANGKAN MAKNA KATA “BAPAK”
|
NILAI
RATA-RATA
|
UKURAN
|
|
8 – 10
|
Tinggi
|
|
6 – 7.5
|
Sedang
|
|
0 – 5.5
|
Kurang
|
BAB V
SIMPULAN DAN REKOMENDASI
5.1
Simpulan
- Setelah
mengumpulkan data, mempelajari, serta mengolahnya, maka penulis menarik
kesimpulan bahwa penggunaan ilmu semantik terhadap kata “bapak” siswa
kelas X SMAN 2 Cianjur tahun ajar 2011-2012 cukup baik. Hal ini terbukti
dari nilai rata-rata siswa berada pada klasifikasi sedang yaitu dengan
nilai 7.15.
- Siswa
kelas X SMAN 2 Cianjur tahun ajar 2011-2012, memiliki tingkat prestasi
sedang dalam pembelajaran bahasa khususnya dalam mengembangkan kata
menjadi kalimat. Terbukti dari hasil penelitian, dari 20 orang siswa
memiliki nilai yang cukup signifikan yaitu 7.15.
5.2
Rekomendasi
Bertitik
dari simpulan yang telah dirumuskan diatas, maka pada bagian ini penulis akan
mengemukakan beberapa rekomendasi sebagai masukan untuk meningkatkan
keefektivitasan dalam berekspresi.
1. Guru
senantiasa membangkitkan gairah atau minat siswa, sehingga memiliki kemampuan mengembangkan
kalimat yang cukup baik.
2. Upayakan
setiap pertemuan menggunakan alat pengajaran, karena alat tersebut akan mampu
mengundang perhatian dan menumbuhkan kemampuan siswa dalam belajar.
3. Agar
tidak monoton dan siswa tidak cepat jenuh, guru sebaiknya dapat mengupayakan
dengan menyajikan materi pelajaran dengan cara, teknik, dan metode yang
bervariasi.
DAFTAR PUSTAKA
Aminudin. 1988. Semantik.
Bandung: Sinar Baru.
Alwi, Hasan dkk.
2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia,
Jakarta : Balai Pustaka
Arikunto,
Suharsimi. 1992. Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta : PT Rineka Cipta.
Cahyono, Bambang
Yudi. 1994. Kristal-Kristal Ilmu Bahasa.
Surabaya:
Airlangga University Press.
Chaer, Abdul.
2007. Linguistik Umum. Jakarta:
Rineka Cipta.
Chaer, Abdul.
1994. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia.
Jakarta: Rineka
Cipta.
Kushartanti,
Untung Yuwono, dan Multamia RMT Lauder. 2005. Pesona Bahasa
Langkah
Awal Memahami Linguistik. Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka
Utama.
Rois, Munawar.
2008. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah,
Cianjur : FKIP
Universitas Suryakancana.
Sudjana, Nana.
1987. Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah,
Bandung : Sinar Baru
Algensindo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar