BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Bahasa pada
dasarnya merupakan sesuatu yang khas dimiliki manusia. Ernst Cassirer dalam hal
imi menyebutkan manusia sebagai animal
symbolicum, kani manusia makhluk hidup yang menggunakan media berupa simbol
kebahasaan dalam memberi arti dan mengisi kehidupannya.
Dari kenyataan
diatas, dapat dimaklumi bahasa bagi manusia memiliki fungsi yang cukup kompleks
dan beragam. Seperti diungkapkan (Halliday, 1978:21) mengungkapkan bahasa
selain memiliki fungsi, bahasa juga :
1. Instrumental,
alat untuk memenuhi kebutuhan material;
2. Regiolatory,
mengatur dan mengontrol prilaku individu yang satu dengan yang lain dalam suatu
hubungan sosial;
3. Interaksional,
menciptakan jalinan hubungan antara individu yang satu dengan yang lain maupun
kelompok yang satu dengan yang lain;
4. Personal,
media identifikasi dan ekspresi diri;
5. Heuristik,
untuk menjelajahi, mempelajari, memahami dunia sekitar;
6. Imajinatif,
mengkreasikan dunia dalam kesadaran dunia batin seseorang;
7. Informatif,
media penyampai pesan dalam kegiatan komunikasi, juga dapat difungsikan untuk
menafsirkan dan memahami keseluruhan pengalaman batin seseorang.
Dari terdapatnya
sejumlah fungsi bahasa diatas, dapat dimaklumi apabila semantik juga memiliki
hubungan dengan sejumlah disiplin ilmu lain.
1.2
Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam
penulisan makalah ini adalah:
1. Mendeskripsikan
semantik dan disiplin ilmu lain;
2. Untuk
memenuhi salah satu tugas mata kuliah semantik 1.
BAB
II
SEMANTIK
DAN DISIPLIN ILMU LAIN
2.1
Semantik dan Filsafat
Filsafat,
sebagai studi tentang kearifan, pengetahuan, hakikat realitas maupun prinsip,
memiliki hubungan sangat erat dengan semantik. Hal itu terjadi karena dunia
fakta yang menjadi objek perenungan adalah dunia simbolik yang terwakili dalam
bahasa. Dalam situasi tersebut, bahasa pada dasarnya juga bukan hanya sekedar
media proses berpikir maupun menyampaikan hasil pikiran.
Filosof Bertrand
Russel mengungkapkan bahwa ketepatan menyusun simbol kebahasaan secara logis
merupakan dasar dalam memahami struktur realitas secara benar. Sebab itu
kompleksitas simbol juga harus memiliki kesesuaian dengan kompleksitas realitas
itu sendiri sehingga antara keduanya dapat berhubungan secara tepat dan benar
(Alston, 1964:2). Bahasa sehari-hari yang biasa kita gunakan, bila dikaitkan
dengan kegiatan filsafat mengandung kelemahan, antara lain:
1. Vaguenes,
karena makna yang terkandung dalam suatu bentuk kebahasaan pada dasarnya hanya
mewakili relitas yang diacunya;
2. Inexplicitness, akibat
lebih lanjut adanya kekaburan dan ketaksaan makna sehingga bahasa sering kali
tidak mampu secara eksak, tepat dan menyeluruh mewujudkan gagasan yang
dipersentasikannya;
3. Ambiguity, berkaitan
dengn ciri ketaksaan makna dari suatu bentuk kebahasaan;
4. Context-dependent, pemakaian
suatu bentuk sering kali berpindah-pindah maknanya sesuai dengan konteks
gramatika, sosial, serta konteks situasional dalam pemakaiannya;
5. Misleadingness, berhubungan
dengan keberadaanya dalam komunikasi.
2.2
Sematik dan Psikologi
Hubungan yang
begitu erat antara bahasa dengan aspek kejiwaan manusia, slah satunya ditandai
oleh kehadiran disiplin ilmu yang mengkaji linguistik dario sudut Psikologi.
Jhon
Locke, mengungkapkan bahwa pemakaian kata-kata dapat diartikan sebagai penanda
bentuk gagasan tertentu, karena bahasa juga menjadi instrumen pikiran yang
mengacu pada suasana maupun realitas tertentu (Alston, 1964:22).
Kekuatan
psikologi dalam bidang semantik juga ditandai oleh adanya pengaruh sejumlah
aliran dalam psikologi. Pendekatan psikologi
behaviorisme dalam kajian makna bertolak dari anggapan bahwa makna
merupakan bentuk responsi terhadap stimulasi yang diperoleh oleh pemeren
dalam komunikasi sesuai dengan asosiasi maupun hasil belajar yang dimiliki
(Paivio dan Begg, 1981:94).
Pendekatan
psikologi kognitif dalam pengkajian makna dapat dibedakan antara lain :
1. Kelompok
yang lebih banyak berorientasi pada teori psikologi kognitif;
2. Kelompok
yang lebih banyak berorientasi pada lingusitik.
Kelompok
yang lebih banyak berorientasi pada linguistik beranggapan bahwa :
a. Pemahaman
terhadap suatu bentuk kebahasaan ditentukan oleh pemahaman representasi semantis;
b. Pemahaman
terhadap representasi semantis, pada sisi lain juga berperan dalam
mengembangkan kemampuan mengolah proposisi;
c. Dalam
komunikasi, kemampuan mengolah proposisi harus disertai kemampuan memilih kata
serta menata struktur sintaktiknya;
d. Kemampuan
seseorang dalam memahami ciri dan gambaran makna kata-kata atau fitur semantis suatu bentuk kebahasaan,
sangat berperan dalam mengembangkan kemampuan memahami pesan.
Salah satu model
analisis fitur semantis kata lewat pendekatan psikologi kognitif yang lebih
banyak berorientasi pada linguistik, dilaksanakan antara lain dengan cara.
1. Mengidentifikasi
sejumlah ciri referen yang diacu oleh kata.
2. Mengidentifikasi
kemungkinan adanya hubungan referen suatu kata dengan acuan referen dalam kata
lainnya.
3. Mengidentifikasi
ciri khusus setiap kata yang memiliki ciri hubungan acuan referen, sebagai
butir ciri yang membedakan fitur sematis
kata itu dengan lainnya.
2.3
Semantik dan Semiotik
Semiotika berasal dari kata Yunani: semeion,
yang berarti tanda. Dalam pandangan Piliang, penjelajahan semiotika sebagai
metode kajian ke dalam berbagai cabang keilmuan ini dimungkinkan karena ada
kecenderungan untuk memandang berbagai wacana sosial sebagai fenomena bahasa.
Dengan kata lain, bahasa dijadikan model dalam berbagai wacana sosial.
Berdasarkan pandangan semiotika, bila seluruh praktek sosial dapat dianggap
sebagai fenomena bahasa, maka semuanya dapat juga dipandang sebagai tanda. Hal
ini dimungkinkan karena luasnya pengertian tanda itu sendiri (Piliang,
1998:262).
Semiotika menurut Berger memiliki dua
tokoh, yakni Ferdinand de Saussure (1857-1913) dan Charles Sander Peirce
(1839-1914). Kedua tokoh tersebut mengembangkan ilmu semiotika secara terpisah
dan tidak mengenal satu sama lain. Saussure di Eropa dan Peirce di Amerika
Serikat. Latar belakang keilmuan adalah linguistik, sedangkan Peirce filsafat.
Saussure menyebut ilmu yang dikembangkannya semiologi (semiology).
Semiologi menurut Saussure seperti
dikutip seperti dikutip Hidayat, didasarkan pada anggapan bahwa selama
perbuatan dan tingkah laku manusia membawa makna atau selama berfungsi sebagai
tanda, harus ada di belakangnya sistem perbedaan dan konvensi yang memungkinkan
makna itu. Di mana ada tanda di sana ada sistem (Hidayat, 1998:26). Sedangkan Peirce menyebut ilmu yang
dibangunnya semiotika (semiotics). Bagi Peirce yang ahli filsafat dan logika,
penalaran manusia senantiasa dilakukan lewat tanda. Artinya, manusia hanya
dapat bernalar lewat tanda. Dalam pikirannya, logika sama dengan semiotika dan
semiotika dapat ditetapkan pada segala macam tanda (Berger, 2000:11-22). Dalam
perkembangan selanjutnya, istilah semiotika lebih populer daripada semiologi.
Semiotika adalah ilmu yang mempelajari
tentang tanda (sign), berfungsi tanda, dan produksi makna. Tanda adalah sesuatu
yang bagi seseorang berarti sesuatu yang lain. Dalam pandangan Zoest, segala
sesuatu yang dapat diamati atau dibuat teramati dapat disebut tanda. Karena
itu, tanda tidaklah terbatas pada benda. Adanya peristiwa, tidak adanya
peristiwa, struktur yang ditemukan adalah sesuatu, suatu kebiasaan, semua ini
dapat disebut benda. Sebuah bendera kecil, sebuah isyarat tangan, sebuah kata,
suatu keheningan, suatu kebiasaan makan, sebuah gejala mode, suatu gerak
syaraf, peristiwa memerahnya wajah, suatu kesukaan tertentu, letak bintang
tertentu, suatu sikap, setangkah bunga, rambut uban, sikap diam membisu, gagap.
Bicara cepat, berjalan sempoyongan, menatap, api, putih, bentuk bersudut tajam,
kecepatan, kesabaran, kegilaan, kekhawatiran, kelengahan semuanya itu dianggap
sebagai tanda (Zoest, 1993:18).
Menurut
Saussure, seperti dikutip Pradopi (1991:54) tanda sebagai kesatuan dari dua
bidang yang tidak dapat dipisahkan seperti halnya selembar kertas. Di mana ada
tanda di sana ada sistem. Artinya, sebuah tanda (berwujud kata atau gambar)
mempunyai dua aspek yang ditangkap oleh indra kita yang disebut dengan
signifier, bidang penanda atau bentuk dan aspek lainnya yang disebut signified,
bidang petanda atau konsep atau makna. Aspek kedua terkandung di dalam aspek
pertama. Jadi petanda merupakan konsep atau apa yang dipresentasikan oleh aspek
pertama.
Lebih lanjut dikatakannya bahwa penanda
terletak pada tingkatan ungkapan (level of expression) dan mempunyai wujud atau
merupakan bagian fisik seperti bunyi, huruf, kata, gambar, warna, obyek, dan
sebagainya.
Pertanda terletak pada level of content
(tingkatan isi atau gagasan) dari apa yang diungkapkan melalui tingkatan
ungkapan. Hubungan antara kedua unsur melahirkan makna. Tanda akan selalu mengacu pada
(mewakili) sesuatu hal (benda) yang lain yang disebut reerent. Lampu merah
mengacu pada jalan berhenti. Wajah cerah mengacu pada kebahagiaan. Air mata
mengacu pada kesedihan. Apalagi hubungan antara tanda dan yang diacu terjadi,
maka dalam benak orang yang melihat atau mendengar akan timbul penertian (Eco,
1979:59).
Menurut
Piere, tanda (representamen) ialah sesuatu yang dapat mewakili sesuatu yang
lain dalam batas-batas tertentu (Eco, 1979:15). Tanda akan selalu mengacu ke
sesuatu yang lain, oleh Pierce disebut obyek (denotatum). Ke sesuatu yang lain,
oleh Pierce disebut obyek (denotatum). Mengacu berarti mewakili atau
menggantikan. Tanda baru dapat berfungsi bila diinterpretarikan dalam benak penerima
tanda melalui interpretant. Jadi interpretant ialah pemahaman makna yang muncul
dalam diri penerima tanda. Aritnya, tanda baru dapat berfungsi sebagai tanda
bila dapat ditangkap dan pemahaman terjadi berkat ground, yaitu pengetahuan
tentang sistem tanda dalam suatu masyarakat. Hubungan ketiga unsur yang
dikemukakan Pierce terkenal dengan nama segi tiga semiotik.
Selanjutnya dikatakan, tanda dalam
hubungan dengan acuannya dibedakan menjadi tanda yang dikenal dengan ikon,
indeks, dan simbol. Ikon adalah
tanda yang antara tanda dengan acuannya ada hubungan kemiripan dan biasa
disebut metafora. Contoh ikon adalah potret. Bila ada hubungan kedekatan
eksistensi, tanda demikian disebut indeks. Tanda seperti ini disebut metonimi.
Contoh indeks adalah tanda.
2.4 Semantik dan Sosiologi
Semantik berhubungan dengan sosiologi dikarenakan seringnya dijumpai
kenyataan bahwa penggunaan kata tertentu untuk mengatakan sesuatu dapat
menandai identitas kelompok penuturnya.
Contohnya :
·
Penggunaan /
pemilihan kata ‘cewek’ atau ‘wanita’, akan dapat menunjukkan identitas kelompok
penuturnya.
·
Kata ‘cewek’
identik dengan kelompok anak muda, sedangkan kata ‘wanita’ terkesan lebih
sopan, dan identik dengan kelompok orang tua yang mengedepankan kesopanan.
2.5 Semantik dan Gramatika
Tataran tata
bahasa atau gramatika dibagi menjadi dua subtataran, yaitu morfologi dan
sintaksis.
Morfologi adalah cabang linguistik yang
mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal. Morfologi
mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk
kata terhadap golongan dan arti kata. Atau dengan kata lain dapat dikatakan
bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi
perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik. Satuan dari
morfologi yaitu morfem dan kata. Contoh :
pe-lajar = Ajar
be-lajar pe- dan be- dapat
membedakan makna
Definisi atau batasan sintaksis menurut para ahli.
a.
Hari Murt Kridalaksana (1993)
Sintaksis adalah subsistem bahasa yang mencakup tentang kata
yang sering dianggap bagian dari gramatika yaitu morfologi dan cabang
linguistic yang mempelajari tentang kata.
b.
Ramlan (2001:18)
Istilah sintaksis (Belanda, Syntaxis) ialah bagian atau
cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa
dan frase.
c.
Gleason (1955)
“Syntax maybe roughly defined as the principles of
arrangement of the construction (word) into large constructions of various
kinds.”
Artinya: sintaksis mungkin dikaitkan dari definisi prinsip
aransement konstruksi (kata) kedalam konstruksi besar dari bermacam-macam
variasi.
d.
Hari Murt Kridalaksana (1993)
Mendefinisikan sintaksis sebagai pengaturan dan hubungan
antara kata dengan kata, atau dengan satuan-satuan yang lebih besar itu dalam
bahasa. Satuan terkecil dalam bidang ini adalah kata.
Dari definisi
morfologi dan sintaksis diatas, dengan kata lain satuan dan proses dari
morfologi dan sintaktik memiliki makna. Oleh karena itu, pada tataran ini ada
masalah-masalah semantik yang disebut semantik gramatikal karena objek studinya
adalah makna-makna gramatikal dari tataran tersebut.
2.6
Semantik dan Tata Sastra
Sastra sebagai salah satu bentuk
kreasi seni, menggunakan bahasa sebagai media pemaparnya. Akan tetapi, berbeda
dengan bahasa yang digunakan sehari-hari, bahasa dalam karya sastra memiliki
kekhasannya sendiri. Disebut demikian, karena bahasa dalam sastra merupakan
salah satu bentuk idiosyncratic
dimana tebaran kata yang digunakan merupakan hasil pengolahan dan ekspresi
individeul pengarangnya (cf. Lyons, 1979:108).
Seperti halnya bahasa yang digunakan
dalam kehidupan sehari-hari, kode dalam sastra memiliki lapis makna. Menurut
(cf. Aminuddin, 1984:63) lapis makna dalam hal ini, terbagi beberapa stratum,
yakni:
a. Unit makna literal yang secara
tersurat direpresentasikan bentuk kebahasaan yang digunakan;
b. Dunia rekaan pengarang;
c. Dunia yang dipandang dari titik
pandang tertentu;
d. Lapis dunia atau pesan yang bersifat
metafisis.
Dari terdapatnya lapis makna diatas, dapat dimaklumi bila
Roman Ingarden sebagai pencetus awal konsep strata makna dalam sastra itu
mengungkapkan bahwa makna karya sastra adalah proses kongkretisasi yang
diadakan terus menerus oleh pembaca (Teew, 1984:191).
Kajian dalam bidang stilistik
sejak akhir abad ke-20 ini sudah tidak dapat dipisah-pisahkan dengan semantik
(Ullman, 1977:9).
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Bahasa pada
dasarnya merupakan sesuatu yang khas dimiliki manusia. Ernst Cassirer dalam hal
imi menyebutkan manusia sebagai animal
symbolicum, kani manusia makhluk hidup yang menggunakan media berupa simbol
kebahasaan dalam memberi arti dan mengisi kehidupannya. Filsafat, sebagai studi
tentang kearifan, pengetahuan, hakikat realitas maupun prinsip, memiliki
hubungan sangat erat dengan semantik. Hal itu terjadi karena dunia fakta yang
menjadi objek perenungan adalah dunia simbolik yang terwakili dalam bahasa.
Kekuatan
psikologi dalam bidang semantik juga ditandai oleh adanya pengaruh sejumlah
aliran dalam psikologi. Pendekatan psikologi
behaviorisme dalam kajian makna bertolak dari anggapan bahwa makna
merupakan bentuk responsi terhadap stimulasi yang diperoleh oleh pemeren
dalam komunikasi. Semiotika berasal dari kata Yunani: semeion, yang
berarti tanda. Dalam pandangan Piliang, penjelajahan semiotika sebagai metode
kajian ke dalam berbagai cabang keilmuan ini dimungkinkan karena ada
kecenderungan untuk memandang berbagai wacana sosial sebagai fenomena bahasa.
Semantik
berhubungan dengan sosiologi dikarenakan seringnya dijumpai kenyataan bahwa penggunaan
kata tertentu untuk mengatakan sesuatu dapat menandai identitas kelompok
penuturnya.
Tataran tata
bahasa atau gramatika dibagi menjadi dua subtataran, yaitu morfologi dan
sintaksis. Sastra
sebagai salah satu bentuk kreasi seni, menggunakan bahasa sebagai media
pemaparnya.
3.2
Saran
Penulis menyarankan kepada pembaca,
khususnya mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia agar lebih berhati-hati
dalam menuturkan semantik, karena tuturan semantik itu sangat berhubungan erat
dengan kebahasaan, bahasa Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Aminudin.
2003. Semantik Pengantar Studi Tentang
Makna, Malang : Sinar Baru
Algensindo.
http://sigodang.blogspot.com/2008/11/pengertian-semantik.html
Sastra http://www.anneahira.com/definisi-sastra.htm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar