Rabu, 13 Maret 2013

SEMANTIK DAN DISIPLIN ILMU LAIN


BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Bahasa pada dasarnya merupakan sesuatu yang khas dimiliki manusia. Ernst Cassirer dalam hal imi menyebutkan manusia sebagai animal symbolicum, kani manusia makhluk hidup yang menggunakan media berupa simbol kebahasaan dalam memberi arti dan mengisi kehidupannya.
Dari kenyataan diatas, dapat dimaklumi bahasa bagi manusia memiliki fungsi yang cukup kompleks dan beragam. Seperti diungkapkan (Halliday, 1978:21) mengungkapkan bahasa selain memiliki fungsi, bahasa juga :
1.    Instrumental, alat untuk memenuhi kebutuhan material;
2.    Regiolatory, mengatur dan mengontrol prilaku individu yang satu dengan yang lain dalam suatu hubungan sosial;
3.    Interaksional, menciptakan jalinan hubungan antara individu yang satu dengan yang lain maupun kelompok yang satu dengan yang lain;
4.    Personal, media identifikasi dan ekspresi diri;
5.    Heuristik, untuk menjelajahi, mempelajari, memahami dunia sekitar;
6.    Imajinatif, mengkreasikan dunia dalam kesadaran dunia batin seseorang;
7.    Informatif, media penyampai pesan dalam kegiatan komunikasi, juga dapat difungsikan untuk menafsirkan dan memahami keseluruhan pengalaman batin seseorang.
Dari terdapatnya sejumlah fungsi bahasa diatas, dapat dimaklumi apabila semantik juga memiliki hubungan dengan sejumlah disiplin ilmu lain.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini adalah:
1.    Mendeskripsikan semantik dan disiplin ilmu lain;
2.    Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah semantik 1.

BAB II
SEMANTIK DAN DISIPLIN ILMU LAIN


2.1 Semantik dan Filsafat
Filsafat, sebagai studi tentang kearifan, pengetahuan, hakikat realitas maupun prinsip, memiliki hubungan sangat erat dengan semantik. Hal itu terjadi karena dunia fakta yang menjadi objek perenungan adalah dunia simbolik yang terwakili dalam bahasa. Dalam situasi tersebut, bahasa pada dasarnya juga bukan hanya sekedar media proses berpikir maupun menyampaikan hasil pikiran.
Filosof Bertrand Russel mengungkapkan bahwa ketepatan menyusun simbol kebahasaan secara logis merupakan dasar dalam memahami struktur realitas secara benar. Sebab itu kompleksitas simbol juga harus memiliki kesesuaian dengan kompleksitas realitas itu sendiri sehingga antara keduanya dapat berhubungan secara tepat dan benar (Alston, 1964:2). Bahasa sehari-hari yang biasa kita gunakan, bila dikaitkan dengan kegiatan filsafat mengandung kelemahan, antara lain:
1.    Vaguenes, karena makna yang terkandung dalam suatu bentuk kebahasaan pada dasarnya hanya mewakili relitas yang diacunya; 
2.    Inexplicitness, akibat lebih lanjut adanya kekaburan dan ketaksaan makna sehingga bahasa sering kali tidak mampu secara eksak, tepat dan menyeluruh mewujudkan gagasan yang dipersentasikannya;
3.    Ambiguity, berkaitan dengn ciri ketaksaan makna dari suatu bentuk kebahasaan;
4.    Context-dependent, pemakaian suatu bentuk sering kali berpindah-pindah maknanya sesuai dengan konteks gramatika, sosial, serta konteks situasional dalam pemakaiannya;
5.    Misleadingness, berhubungan dengan keberadaanya dalam komunikasi.



2.2 Sematik dan Psikologi
Hubungan yang begitu erat antara bahasa dengan aspek kejiwaan manusia, slah satunya ditandai oleh kehadiran disiplin ilmu yang mengkaji linguistik dario sudut Psikologi.   
            Jhon Locke, mengungkapkan bahwa pemakaian kata-kata dapat diartikan sebagai penanda bentuk gagasan tertentu, karena bahasa juga menjadi instrumen pikiran yang mengacu pada suasana maupun realitas tertentu (Alston, 1964:22).
            Kekuatan psikologi dalam bidang semantik juga ditandai oleh adanya pengaruh sejumlah aliran dalam psikologi. Pendekatan psikologi behaviorisme dalam kajian makna bertolak dari anggapan bahwa makna merupakan bentuk responsi terhadap stimulasi yang diperoleh oleh pemeren dalam komunikasi sesuai dengan asosiasi maupun hasil belajar yang dimiliki (Paivio dan Begg, 1981:94).
            Pendekatan psikologi kognitif dalam pengkajian makna dapat dibedakan antara lain :
1.    Kelompok yang lebih banyak berorientasi pada teori psikologi kognitif;
2.    Kelompok yang lebih banyak berorientasi pada lingusitik.
Kelompok yang lebih banyak berorientasi pada linguistik beranggapan bahwa :
a.       Pemahaman terhadap suatu bentuk kebahasaan ditentukan oleh pemahaman representasi semantis;
b.      Pemahaman terhadap representasi semantis, pada sisi lain juga berperan dalam mengembangkan kemampuan mengolah proposisi;
c.       Dalam komunikasi, kemampuan mengolah proposisi harus disertai kemampuan memilih kata serta menata struktur sintaktiknya;
d.      Kemampuan seseorang dalam memahami ciri dan gambaran makna kata-kata atau fitur semantis suatu bentuk kebahasaan, sangat berperan dalam mengembangkan kemampuan memahami pesan.
Salah satu model analisis fitur semantis kata lewat pendekatan psikologi kognitif yang lebih banyak berorientasi pada linguistik, dilaksanakan antara lain dengan cara.  

1.    Mengidentifikasi sejumlah ciri referen yang diacu oleh kata.
2.    Mengidentifikasi kemungkinan adanya hubungan referen suatu kata dengan acuan referen dalam kata lainnya.
3.    Mengidentifikasi ciri khusus setiap kata yang memiliki ciri hubungan acuan referen, sebagai butir ciri yang membedakan fitur sematis kata itu dengan lainnya.

2.3 Semantik dan Semiotik
Semiotika berasal dari kata Yunani: semeion, yang berarti tanda. Dalam pandangan Piliang, penjelajahan semiotika sebagai metode kajian ke dalam berbagai cabang keilmuan ini dimungkinkan karena ada kecenderungan untuk memandang berbagai wacana sosial sebagai fenomena bahasa. Dengan kata lain, bahasa dijadikan model dalam berbagai wacana sosial. Berdasarkan pandangan semiotika, bila seluruh praktek sosial dapat dianggap sebagai fenomena bahasa, maka semuanya dapat juga dipandang sebagai tanda. Hal ini dimungkinkan karena luasnya pengertian tanda itu sendiri (Piliang, 1998:262).
Semiotika menurut Berger memiliki dua tokoh, yakni Ferdinand de Saussure (1857-1913) dan Charles Sander Peirce (1839-1914). Kedua tokoh tersebut mengembangkan ilmu semiotika secara terpisah dan tidak mengenal satu sama lain. Saussure di Eropa dan Peirce di Amerika Serikat. Latar belakang keilmuan adalah linguistik, sedangkan Peirce filsafat. Saussure menyebut ilmu yang dikembangkannya semiologi (semiology).
Semiologi menurut Saussure seperti dikutip seperti dikutip Hidayat, didasarkan pada anggapan bahwa selama perbuatan dan tingkah laku manusia membawa makna atau selama berfungsi sebagai tanda, harus ada di belakangnya sistem perbedaan dan konvensi yang memungkinkan makna itu. Di mana ada tanda di sana ada sistem (Hidayat, 1998:26). Sedangkan Peirce menyebut ilmu yang dibangunnya semiotika (semiotics). Bagi Peirce yang ahli filsafat dan logika, penalaran manusia senantiasa dilakukan lewat tanda. Artinya, manusia hanya dapat bernalar lewat tanda. Dalam pikirannya, logika sama dengan semiotika dan semiotika dapat ditetapkan pada segala macam tanda (Berger, 2000:11-22). Dalam perkembangan selanjutnya, istilah semiotika lebih populer daripada semiologi.
Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda (sign), berfungsi tanda, dan produksi makna. Tanda adalah sesuatu yang bagi seseorang berarti sesuatu yang lain. Dalam pandangan Zoest, segala sesuatu yang dapat diamati atau dibuat teramati dapat disebut tanda. Karena itu, tanda tidaklah terbatas pada benda. Adanya peristiwa, tidak adanya peristiwa, struktur yang ditemukan adalah sesuatu, suatu kebiasaan, semua ini dapat disebut benda. Sebuah bendera kecil, sebuah isyarat tangan, sebuah kata, suatu keheningan, suatu kebiasaan makan, sebuah gejala mode, suatu gerak syaraf, peristiwa memerahnya wajah, suatu kesukaan tertentu, letak bintang tertentu, suatu sikap, setangkah bunga, rambut uban, sikap diam membisu, gagap. Bicara cepat, berjalan sempoyongan, menatap, api, putih, bentuk bersudut tajam, kecepatan, kesabaran, kegilaan, kekhawatiran, kelengahan semuanya itu dianggap sebagai tanda (Zoest, 1993:18).
Menurut Saussure, seperti dikutip Pradopi (1991:54) tanda sebagai kesatuan dari dua bidang yang tidak dapat dipisahkan seperti halnya selembar kertas. Di mana ada tanda di sana ada sistem. Artinya, sebuah tanda (berwujud kata atau gambar) mempunyai dua aspek yang ditangkap oleh indra kita yang disebut dengan signifier, bidang penanda atau bentuk dan aspek lainnya yang disebut signified, bidang petanda atau konsep atau makna. Aspek kedua terkandung di dalam aspek pertama. Jadi petanda merupakan konsep atau apa yang dipresentasikan oleh aspek pertama.
Lebih lanjut dikatakannya bahwa penanda terletak pada tingkatan ungkapan (level of expression) dan mempunyai wujud atau merupakan bagian fisik seperti bunyi, huruf, kata, gambar, warna, obyek, dan sebagainya.
Pertanda terletak pada level of content (tingkatan isi atau gagasan) dari apa yang diungkapkan melalui tingkatan ungkapan. Hubungan antara kedua unsur melahirkan makna. Tanda akan selalu mengacu pada (mewakili) sesuatu hal (benda) yang lain yang disebut reerent. Lampu merah mengacu pada jalan berhenti. Wajah cerah mengacu pada kebahagiaan. Air mata mengacu pada kesedihan. Apalagi hubungan antara tanda dan yang diacu terjadi, maka dalam benak orang yang melihat atau mendengar akan timbul penertian (Eco, 1979:59).
Menurut Piere, tanda (representamen) ialah sesuatu yang dapat mewakili sesuatu yang lain dalam batas-batas tertentu (Eco, 1979:15). Tanda akan selalu mengacu ke sesuatu yang lain, oleh Pierce disebut obyek (denotatum). Ke sesuatu yang lain, oleh Pierce disebut obyek (denotatum). Mengacu berarti mewakili atau menggantikan. Tanda baru dapat berfungsi bila diinterpretarikan dalam benak penerima tanda melalui interpretant. Jadi interpretant ialah pemahaman makna yang muncul dalam diri penerima tanda. Aritnya, tanda baru dapat berfungsi sebagai tanda bila dapat ditangkap dan pemahaman terjadi berkat ground, yaitu pengetahuan tentang sistem tanda dalam suatu masyarakat. Hubungan ketiga unsur yang dikemukakan Pierce terkenal dengan nama segi tiga semiotik.
Selanjutnya dikatakan, tanda dalam hubungan dengan acuannya dibedakan menjadi tanda yang dikenal dengan ikon, indeks, dan simbol. Ikon adalah tanda yang antara tanda dengan acuannya ada hubungan kemiripan dan biasa disebut metafora. Contoh ikon adalah potret. Bila ada hubungan kedekatan eksistensi, tanda demikian disebut indeks. Tanda seperti ini disebut metonimi. Contoh indeks adalah tanda.

2.4 Semantik dan Sosiologi
Semantik berhubungan dengan sosiologi dikarenakan seringnya dijumpai kenyataan bahwa penggunaan kata tertentu untuk mengatakan sesuatu dapat menandai identitas kelompok penuturnya.
Contohnya :
·         Penggunaan / pemilihan kata ‘cewek’ atau ‘wanita’, akan dapat menunjukkan identitas kelompok penuturnya.
·         Kata ‘cewek’ identik dengan kelompok anak muda, sedangkan kata ‘wanita’ terkesan lebih sopan, dan identik dengan kelompok orang tua yang mengedepankan kesopanan.


2.5 Semantik dan Gramatika
Tataran tata bahasa atau gramatika dibagi menjadi dua subtataran, yaitu morfologi dan sintaksis.
Morfologi adalah cabang linguistik yang mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal. Morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata. Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik. Satuan dari morfologi yaitu morfem dan kata. Contoh :
pe-lajar = Ajar
be-lajar pe- dan be- dapat membedakan makna

Definisi atau batasan sintaksis menurut para ahli.
a.    Hari Murt Kridalaksana (1993)
Sintaksis adalah subsistem bahasa yang mencakup tentang kata yang sering dianggap bagian dari gramatika yaitu morfologi dan cabang linguistic yang mempelajari tentang kata.
b.   Ramlan (2001:18)
Istilah sintaksis (Belanda, Syntaxis) ialah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa dan frase.
c.    Gleason (1955)
“Syntax maybe roughly defined as the principles of arrangement of the construction (word) into large constructions of various kinds.”
Artinya: sintaksis mungkin dikaitkan dari definisi prinsip aransement konstruksi (kata) kedalam konstruksi besar dari bermacam-macam variasi.
d.   Hari Murt Kridalaksana (1993)
Mendefinisikan sintaksis sebagai pengaturan dan hubungan antara kata dengan kata, atau dengan satuan-satuan yang lebih besar itu dalam bahasa. Satuan terkecil dalam bidang ini adalah kata.

Dari definisi morfologi dan sintaksis diatas, dengan kata lain satuan dan proses dari morfologi dan sintaktik memiliki makna. Oleh karena itu, pada tataran ini ada masalah-masalah semantik yang disebut semantik gramatikal karena objek studinya adalah makna-makna gramatikal dari tataran tersebut.

2.6 Semantik dan Tata Sastra
            Sastra sebagai salah satu bentuk kreasi seni, menggunakan bahasa sebagai media pemaparnya. Akan tetapi, berbeda dengan bahasa yang digunakan sehari-hari, bahasa dalam karya sastra memiliki kekhasannya sendiri. Disebut demikian, karena bahasa dalam sastra merupakan salah satu bentuk idiosyncratic dimana tebaran kata yang digunakan merupakan hasil pengolahan dan ekspresi individeul pengarangnya (cf. Lyons, 1979:108).
            Seperti halnya bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, kode dalam sastra memiliki lapis makna. Menurut (cf. Aminuddin, 1984:63) lapis makna dalam hal ini, terbagi beberapa stratum, yakni:
a.    Unit makna literal yang secara tersurat direpresentasikan bentuk kebahasaan yang digunakan;
b.    Dunia rekaan pengarang;
c.    Dunia yang dipandang dari titik pandang tertentu;
d.   Lapis dunia atau pesan yang bersifat metafisis. 
Dari terdapatnya lapis makna diatas, dapat dimaklumi bila Roman Ingarden sebagai pencetus awal konsep strata makna dalam sastra itu mengungkapkan bahwa makna karya sastra adalah proses kongkretisasi yang diadakan terus menerus oleh pembaca (Teew, 1984:191).
Kajian dalam bidang stilistik sejak akhir abad ke-20 ini sudah tidak dapat dipisah-pisahkan dengan semantik (Ullman, 1977:9).





BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Bahasa pada dasarnya merupakan sesuatu yang khas dimiliki manusia. Ernst Cassirer dalam hal imi menyebutkan manusia sebagai animal symbolicum, kani manusia makhluk hidup yang menggunakan media berupa simbol kebahasaan dalam memberi arti dan mengisi kehidupannya. Filsafat, sebagai studi tentang kearifan, pengetahuan, hakikat realitas maupun prinsip, memiliki hubungan sangat erat dengan semantik. Hal itu terjadi karena dunia fakta yang menjadi objek perenungan adalah dunia simbolik yang terwakili dalam bahasa.
Kekuatan psikologi dalam bidang semantik juga ditandai oleh adanya pengaruh sejumlah aliran dalam psikologi. Pendekatan psikologi behaviorisme dalam kajian makna bertolak dari anggapan bahwa makna merupakan bentuk responsi terhadap stimulasi yang diperoleh oleh pemeren dalam komunikasi. Semiotika berasal dari kata Yunani: semeion, yang berarti tanda. Dalam pandangan Piliang, penjelajahan semiotika sebagai metode kajian ke dalam berbagai cabang keilmuan ini dimungkinkan karena ada kecenderungan untuk memandang berbagai wacana sosial sebagai fenomena bahasa.
Semantik berhubungan dengan sosiologi dikarenakan seringnya dijumpai kenyataan bahwa penggunaan kata tertentu untuk mengatakan sesuatu dapat menandai identitas kelompok penuturnya.
Tataran tata bahasa atau gramatika dibagi menjadi dua subtataran, yaitu morfologi dan sintaksis. Sastra sebagai salah satu bentuk kreasi seni, menggunakan bahasa sebagai media pemaparnya.

3.2  Saran
            Penulis menyarankan kepada pembaca, khususnya mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia agar lebih berhati-hati dalam menuturkan semantik, karena tuturan semantik itu sangat berhubungan erat dengan kebahasaan, bahasa Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA


Aminudin. 2003. Semantik Pengantar Studi Tentang Makna, Malang : Sinar Baru
Algensindo.
http://sigodang.blogspot.com/2008/11/pengertian-semantik.html
Sastra http://www.anneahira.com/definisi-sastra.htm






Tidak ada komentar:

Posting Komentar