Rabu, 13 Maret 2013

KESALAHAN KATA


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia dan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Di Timor Leste, Bahasa Indonesia berposisi sebagai bahasa kerja.
Menurut linguistik, Bahasa Indonesia adalah suatu varian bahasa Melayu. Dasar yang dipakai adalah bahasa Melayu Riau dari abad ke-19. Dalam perkembangannya ia mengalami perubahan akibat penggunaanya sebagai bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20. Penamaan "Bahasa Indonesia" diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, untuk menghindari kesan "imperialisme bahasa" apabila nama bahasa Melayu tetap digunakan. Proses ini menyebabkan berbedanya Bahasa Indonesia saat ini dari varian bahasa Melayu yang digunakan di Riau maupun Semenanjung Malaya. Hingga saat ini, Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.

1.2  Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini adalah:
1.    Mendeskripsikan kesalahan kata;
2.    Untuk melengkapi salah satu tugas mata kuliah  Analisis Kesalahan Berbahasa.






BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Kesalahan
Kesalahan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah perihal salah; kekeliruan; kealpaan.
Menurut penulis, kesalahan adalah suatu tindakan, atau perbuatan yang tidak dibenarkan serta dapat dirubah oleh seseorang yang telah melakukan kesalahan tersebut.

2.2 Pengertian Kata
2.2.1 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005), memberikan beberapa definisi mengenai kata:
1.    Elemen terkecil dalam sebuah bahasa yang diucapkan atau dituliskan dan merupakan realisasi kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa;
2.    Konversasi, bahasa;
3.    Morfem atau kombinasi beberapa morfem yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas;
4.    Unit bahasa yang dapat berdiri sendiri dan terdiri dari satu morfem (contoh kata) atau beberapa morfem gabungan (contoh perkataan).
Definisi pertama KBBI bisa diartikan sebagai leksem yang bisa menjadi lema atau entri sebuah kamus. Lalu definisi kedua mirip dengan salah satu arti sesungguhnya kathā dalam bahasa Sansakerta. Kemudian definisi ketiga dan keempat bisa diartikan sebagai sebuah morfem atau gabungan morfem.
2.2.2 Menurut Etimologi
Kata "kata" dalam bahasa Melayu dan Indonesia diambil dari bahasa Sansekerta kathā. Dalam bahasa Sansekerta kathā sebenarnya artinya adalah "konversasi", "bahasa", "cerita" atau "dongeng". Dalam bahasa Melayu dan Indonesia terjadi penyempitan arti semantis menjadi "kata".
2.3 Pengertian Kesalahan Kata
            Menurut penulis bila dilihat dari pengertian kesalahan dan kata diatas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa kesalahan kata adalah kekeliruan terhadap bahasa yang di ucapkan atau dituliskan baik itu morfem tunggal ataupun morfem gabungan. Kesalahan kata tersebut dapat diperbaiki sehingga menjadi kata yang sempurna atau baku.

























BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Kesalahan Penggunaan Kata Baku
Kata baku adalah kata yang standar sesuai dengan aturan kebahasaaan yang berlaku, didasarkan atas kajian berbagai ilmu, termasuk ilmu bahasa dan sesuai dengan perkembangan zaman. Kebakuan kata amat ditentukan oleh tinjauan disiplin ilmu bahasa dari berbagai segi yang ujungnya menghasilkan satuan bunyi yang amat berarti sesuai dengan konsep yang disepakati terbentuk.
Kata baku dalam bahasa Indonesia memedomani Pedoman Umum Pembentukan Istilah yang telah ditetapkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa bersamaan ditetapkannya pedoman sistem penulisan dalam Ejaan Yang Disempurnakan. Di samping itu, kebakuan suatu kata juga ditentukan oleh kaidah morfologis yang berlaku dalam tata bahasa bahasa Indonesia yang telah dibakukan dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indoensia.
Dalam Pedoman Umum Pembentukan istilah (PUPI) diterangkan sistem pembentukan istilah serta pengindonesiaan kosa kata atau istilah yang berasal dari bahasa asing. Bila kita memedomani sistem tesebut akan telihat keberaturan dan kemanapan bahasa Indonesia.
Kata baku sebenanya merupakan kata yang digunakan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang telah ditentukan. Konteks penggunaannya adalah dalam kalimat resmi, baik lisan maupun tertulis dengan pengungkapan gagasan secara tepat.
Suatu kata bisa diklasifikasikan tidak baku bila kata yang digunakan tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang ditentukan. Biasanya hal ini muncul dalam bahasa percakapan sehari-hari, bahasa tutur.
3.1.1 Contoh Kata Baku dan Tidak Baku
Kata Baku
Kata Tidak Baku
mengubah 
merubah
mengesampingkan
mengenyampingkan
struktur 
structure
monarki 
monarkhi
devaluasi 
 defaluasi
abstrak 
 abstrac
akomodasi
 akomodir
legalisiasi
 legalisir
diagnosis
diadnosa
hipotesis
hipotesa
kultur 
 culture
deputi 
 deputy
sekuritas 
 Security
aktivitas 
 aktifitas
relatif 
 relative
teknologi 
 tekhnologi; technologi
elektronik 
 electronik
direktur 
 director
konduite 
 kondite
akuarium 
 aquarium
kongres 
 konggres
hierarki 
 hirarkhi
aksi 
 action
kultur 
 culture
deputi 
 deputy
sekuritas 
 Security
aktivitas 
 aktifitas
relatif 
 relative
teknologi 
 tekhnologi; technologi
elektronik 
 electronik
direktur 
 director
konduite 
 kondite
akuarium 
 aquarium
kongres 
 konggres
hierarki 
 hirarkhi
aksi 
 action
grup 
 group
rute 
 route
institut 
 institute
aki 
 accu
taksi 
 taxi
memesona 
 mempesona
imbau 
 himbau
berpikir 
 berfikir
nasihat 
 nasehat
pukul 19.30 WIB 
 jam 19.30 WIB
standardisasi 
 standarisasi
objek 
 obyek

3.1.2 Ciri Kata Baku
Karena wilayah pemakaiannya yang amat luas dan penuturnya yang beragam, bahasa Indonesia pun mempunyai banyak ragam. Berbagai ragam bahasa itu tetap disebut sebagai bahasa Indonesia karena semua ragam tersebut memiliki beberapa kesamaan ciri. Ciri dan kaidah tata bunyi, pembentukan kata, dan tata makna pada umumnya sama. Itulah sebabnya kita dapat saling memahami orang lain yang berbahasa Indonesia dengan ragam berbeda walaupun kita melihat ada perbedaan perwujudan bahasa Indonesianya.
Di samping ragam yang berdasar wilayah penuturnya, ada beberapa ragam lain dengan dasar yang berbeda, dengan demikian kita mengenal bermacam ragam bahasa Indonesia (ragam formal, tulis, lisan, bidang, dan sebagainya); selain itu ada pula ragam bidang yang lazim disebut sebagai laras bahasa. Yang menjadi pusat perhatian kita dalam menulis di media masa adalah “bahasa Indonesia ragam baku”, atau disingkat “bahasa Indonesia baku”. Namun demikian, tidaklah sederhana memerikan apa yang disebut “ragam baku”
Bahasa Indonesia ragam baku dapat dikenali dari beberapa sifatnya. Seperti halnya dengan bahasa-bahasa lain di dunia, bahasa Indonesia menggunakan bahasa orang yang berpendidikan sebagai tolok ukurnya. Ragam ini digunakan sebagai tolok ukur karena kaidah-kaidahnya paling lengkap diperikan.  Pengembangan ragam bahasa baku memiliki tiga ciri atau arah, yaitu:
1.    Memiliki kemantapan dinamis yang berupa kaidah dan aturan yang tetap. Di sini, baku atau standar berarti tidak dapat berubah setiap saat.
2.    Bersifat kecendikiaan. Sifat ini diwujudkan dalam paragraf, kalimat, dan satuan-satuan bahasa lain yang mengungkapkan penalaran dan pemikiran yang teratur, logis dan masuk akal.
3.    Keseragaman. Di sini istilah “baku” dimaknai sebagai memiliki kaidah yang seragam. Proses penyeragam bertujuan menyeragamkan kaidah, bukan menyeragamkan ragam bahasa, laras bahasa, atau variasi bahasa.
Pemerintah, melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Depdiknas) menghimpun ciri-ciri kaidah bahasa Indonesia baku dalam buku  berjudul Tata Bahasa Baku bahasa Indonesia, di samping Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Dalam kedua naskah tersebut terdapat banyak kaidah yang merupakan pewujudan ciri bahasa Indonesia baku.

3.2 Kesalahan Pembentukan Dan Pemilihan Kata
Pada bagian berikut akan diperhatikan kesalahan kasalahan penbentukan kata, baik dalam bahasa lisan maupun dalam bahasa tulis.
3.2.1 Awalan Me-
Penganggalan pada judul cerita dalam surat kabar diperbolehkan. Namun, dalam teks beritanya awalan me- harus eksplisit. Dibawah ini diperhatikan bentuk yang salah dan bentuk yang benar.
Contoh:
a.    Amerika serikat luncurkan pesawat bolak-balik Colombia (salah).
b.    Amerika serikat meluncurkan pesawat bolak-balik Colombia (benar).
3.2.2 Awalan Ber-
Kata-kata yang berawalan Ber- sering mengandalkan awalan Ber. Padahal awalan Ber harus dieksplisitkan secara jelas. Berikut ini contoh salah dan benar dalam pemakaian.
Contoh:
a.    Sampai jumpa lagi (salah)
b.    Sampai berjumpa lagi (benar)
3.2.3 Peluluhan Bunyi /c/
Kata dasar yang diawali bunyi c sering menjadi luluh apabila mendapat awalan me-. Padahal tidak seperti itu.
Contoh:
a.    Ali sedang menyuci mobil (salah)
b.    ali sedang mencuci mobil (benar)
3.2.4 Kata Dasar
Ada gejala bunyi awal kata dasar, penggunaan kata dasar ini sebenarnya adalah ragam lisan yang dipakai dalam ragam tulis. Akhirnya pencampuran antara ragam lisan dan ragam tulis menimbulkan suatu bentuk kata yang salah dalam pemakaian.
Contoh:
Nyopet, mandang, nulis, dan nambrak. Dalam bahasa Indonesia kita harus menggunakan kata-kata mencopet,memandang, menulis, dan menembrak.
3.2.5 Bunyi /s/, /k/, p/, dan /t/ yang tidak Luluh
Kata dasar yang bunyi awalnya s, k, p, atau t sering tidak luluh jika mendapat awalan me- atau pe-. Padahal menurut kaidah buku bunyi-bunyi itu harus lebur menjadi bunyi sengau.
Contoh:
a.    Semua warga neraga harus mentaati peraturan yang berlaku (salah)
b.    Semua warga neraga harus menaati peraturan yang berlaku (benar)
3.2.6 Awalan Ke- yang Kelirugunaan
Pada kenyataan sehari-hari, kata-kata yang seharusnya berawalan ter sering diberi awalan ke. Hal itu disebabkan oleh kekurang cermatan dalam memilih awalan yang tepat.
Contoh:
a.    Pengendara mator itu meninggal karena ketambrak oleh kereta api (salah)
b.    Pengendara motor itu meninggal karena tertambrak oleh kereta api (benar)
Perlu tiketahui bahwa awalan ke hanya dapat menempel pada kata bilangan. Selain di depan kata bilangan, awalan ke tidak dapat dipakai kecuali pada kata kekasih, kehendak, dan ketua.
3.2.7 Pemakaian Akhiran –ir
Pemakaian kata akhiran –ir sangat produktif dalam penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari. Padahal, dalam bahasa Indonesia baku untuk akhiran –ir adalah asi atau isasi.
Contoh:
a.    Saya sanggup mengkoordinir kegiatan itu (salah)
b.    Saya sanggup mengkoordinasi kegiatan itu (benar)
3.2.8 Padanan yang Tidak Serasi
Terjadi ketika pemakaian bahasa yang kurang cermat memilih padanan yang serasi, yang muncul dalam kehitupan sehari-hari adalah padanan yang tidak sepadan atau yang tidak serasi. Hal itu, terjadi karena dua kaidah yang berselang, atau yang bergabung dalam sebuah kalimat.
Contoh:
a.    karena modal dibank dibank terbatas sehingga tidak semua pengusaha lemah memperoleh kredit. (salah)
b.    karena modal dibank terbatas, tidak semua pengusah lemah memperoleh kredit (benar)
c.    modal dibank terbatas sehingga, tidak semua pengusah lemah memperoleh kredit (benar)
Bentuk-bentuk diatas adalah bentuk yang menggabungkan kata karena dan sehingga, kata apabila dan maka, dan kata walaupun dan tetapi.
3.2.9 Pemakaia Kata Depan di, ke, dari, bagi, pada, daripada, dan terhadap
Dalam pemakaian sehari-hari, pemakaian kata di, ke, dari, bagi, dan daripada sering dipertukarkan.
Contoh:
a.    putusan dari pada pemerintah itu melegakan hati rakyat. (salah)
b.    putusan pemerintah itu melegakan hati rakyat. (benar)
3.2.10 Pemakaian Akronim (singkatan)
Yang dimaksud kata singkatan adalah PLO, UI, dan lain-lain. Sedangkan yang dimaksud dengan bentuk singkat ialah lab (laboratorium), memo (memeorandum) dan lain-lain. Pemakaian akronim dan singkatan dalam bahasa Indonesia kadang-kadang tidak teratur.
3.2.11 Penggunaan Kesimpulan, Keputusan, Penalaran, dan Pemungkinan
Kata-kata kesimpulan bersaing pemakaiannya dengan kata simpulan; kata keputusan bersaing pemakaiannya dengan kata purusan; kata pemukiman bersaing dengan kata permukiman; kata penalaran bersaing dengan kata pernalaran.
Pembentukan kata dalam bahasa Indonesia sebenarnya mengikuti pola yang rapi dan konsisten. Kalau kita perhaikan dengan saksama, bentukan kata itu memiliki hubungan antara yang satu dengan yang lain.
Contoh:
Tulis, menulis, penulis, penulisan, tulisan.
Pilih, memilih, pemilih, pemilihan, pilihan
Ada lagi pembentukan kata yang mengikuti pola berikut
Contoh:
Tani, bertani, petani, pertanian
Mukim, bermukim, pemukim, permukiman
3.2.12 Penggunaan Kata yang Hemat
Salah satu ciri pemakaian bahasa yang efektif adalah kpemakaian bahasa yang hemat kata, tetapi padat isi. Namun dalam komunikasi sehari-hari sering kita jumpai pemakaian kata yang tidak hemat (boros).
Contoh:
Boros hemat
Sejak sejak atau dari
Agar supaya agar atau supaya
Mempunyai pendirian berpendirian
Perbandingan kata yang hemat dan kata boros
a.    Apabila suatu reservoir masih mempunyai cadangan minyak, maka diperlakukan tenaga dorong buatan untuk memproduksi minyak lebih besar (boros, salah)
b.    Apabila suatu reservoir masihmempunyai cadangan minyak, diperlukan tenga dorong buatan untuk memproduksi munyak lebih besar. (salah)
c.    Untuk mengksplorasi dan mengeksploitas munyak dan gas bumi di mana sebagai sumber devisa negaa diperlukan tenaga ahli yang terampil di bidang geologi dan perminyakan. (benar)
3.2.13 Analogi
Di dalam dunia olahraga tertapat istilah petinju. Kata petinju berkorelasi dengan kata bertinju berarti ‘orang yang (biasa) bertinju’, bukan ‘orang yang (biasa ) meninju’.
Dewasa ini dapat dijumpai banyak kata yang sekelompok dengan petinju, seperti pesilat, petenis, pesenam dan lain-lain. Jika dilakukan demikian, akan tercipta bentukan seperti berikut ini:
-          Petinju ‘orang yang bertinju’
-          Pesilat ‘orang yang bersilat’
-          Petenis ‘orang yang bertenis’
-          Pesenam ‘orang yang bersenam’
3.2.14 Bentuk Jamak dalam Bahasa Indonesia
Dalam pemakaian sehari-hari kadang-kadang orang salah menggunakan bentuk jamak bahsa Indonesia sehingga terjadi bentuk yang rancu atau kacau. Bentuk jamak dalam bahasa Indonesia dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a.    Bentuk jamak dengan melakukan pengulangan kata yang bersangkutan seperti;
-          Kuda-kuda
-          Meja-meja
-          Buku-buku
b.    Bentuk jamak dengan menambah kata bilangan seperti;
-          Beberapa meja
-          Sekalian tamu
-          Semua buku
-          Dua tempat
-          Sepuluh computer
c.    Bentuk jamak dengan menmbahkan kata Bantu jamak seperti;
-          Para tamu
d.   Bentuk jamak dengan menggunakn kata ganti orang seperti;
-                    Mereka kita
-                    Kami kalian








BAB IV
PENUTUP

4.1 Simpulan
            Menurut penulis bila dilihat dari pengertian kesalahan dan kata diatas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa kesalahan kata adalah kekeliruan terhadap bahasa yang di ucapkan atau dituliskan baik itu morfem tunggal ataupun morfem gabungan. Kesalahan kata tersebut dapat diperbaiki sehingga menjadi kata yang sempurna atau baku.
Kesalahan Pembentukan Dan Pemilihan Kata yang sering dijumpai diantaranya:
1.        Awalan Me-;
2.        Awalan Ber-;
3.        Peluluhan Bunyi /c/;
4.        Kata Dasar;
5.        Bunyi /s/, /k/, p/, dan /t/ yang tidak Luluh;
6.        Awalan Ke- yang Kelirugunaan;
7.        Pemakaian Akhiran –ir;
8.        Padanan yang Tidak Serasi;
9.        Pemakaia Kata Depan di, ke, dari, bagi, pada, daripada, dan terhadap;
10.    Pemakaian Akronim (singkatan);
11.    Penggunaan Kesimpulan, Keputusan, Penalaran, dan Pemungkinan;
12.    Penggunaan Kata yang Hemat;
13.    Analogi;
14.    Bentuk Jamak dalam Bahasa Indonesia.

4.2 Saran
            Kesalahan kata banyak dijumpai dalam kehidupan kita, baik itu masyarakat, mahasiswa, guru, peserta didik dsb. Oleh sebab itu, maka penulis menyarankan kepada pembaca agar berhati-hati dalam bahasa yang disampaikannya, baik itu lisan maupun tulisan. Apabila kesalahan kata tersebut dibiarkan berlarut-larut, maka kaidah kebahasaan Indonesia akan menjadi tidak beraturan, karena banyak khalayak yang biasa menggunakan bahasa yang tidak baku. Maka dari itu, penulis menekankan kepada pembaca agar selalu menggunakan bahasa yang baku, sesuai dengan kaidah kebahasaan yang benar (EYD).


























DAFTAR PUSTAKA


Alwi, Hasan dkk. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997. Tata Bahasa Baku Bahasa 
Indonesia. Jakarta: Perum Balai Pustaka.
Moeliono, Anton M. 2002. Bahasa yang Efisien dan Efektif dalam Bidang
Iptek”,  makalah lepas.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1979. Pedoman Umum Ejaan
Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Jakarta: Balai Pustaka.
Sabarianto, Dirgo. 2001. Kebakuan dan Ketidakbakuan Kalimat dalam Bahasa 
Indonesia. Jakarta: Mitra Gama Widya.



1 komentar: